Ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hafizh Syafa’aturrahman dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta, Jumat (6/9).

Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia dinilai belum berkomitmen penuh untuk mengurangi angka perokok anak dan remaja. Belum selesai menangani produk rokok konvensional, Indonesia kini harus berhadapan langsung dengan rokok elektrik yang jumlah penggunanya juga banyak dari kalangan di bawah umur.

Salah satu produk rokok elektronik yang berusaha masuk ke pasar Indonesia adalah Juul. Bahkan per 3 September lalu, Juul telah meresmikan toko retail pertama di Indonesia yang berdomisili di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta.

“Kami mempertanyakan komitmen pemerintah untuk menurunkan angka prevalensi perokok pemula usia 10-18 tahun,” kata ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hafizh Syafa’aturrahman dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta, Jumat (6/9).

Ia menuturkan, di Amerika Serikat saja terlihat jelas bahwa produk Juul banyak dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Food and Drugs Administration (FDA) dan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat bahkan sampai membuka investigasi khusus atas hal tersebut.

“Kami jelas keberatan dengan kehadiran Juul di Indonesia, anak-anak muda tidak boleh dijadikan target lagi,” katanya.

Spesialis penyakit paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Feni Fitriani Taufik mengatakan, meski diklaim lebih aman bagi kesehatan, Juul dan perilaku vaping mendapat sorotan tajam. Hal ini tidak terlepas dari kisah viral pengguna aktif Juul, Chance Ammirata, mahasiswa 18 tahun asal Amerika Serikat, yang harus dilarikan ke rumah sakit karena paru-parunya tidak berfungsi lagi.

“Selain kisah mahasiswa yang paru-parunya berlubang dan muncul titik-titik hitam tersebut, ada kisah mahasiswa yang paru-parunya berlubang dan muncul titik-titik hitam tersebut,” kata dia.

Ia menyatakan tidak tepat jika orang yang memakai rokok elektronik sebagai alternatif rokok konvensional. Apalagi sebagai solusi berhenti merokok, padahal banyak bahan berbahaya yang ada di rokok elektronik.

“Pada pengguna rokok elektronik, mereka juga tetap ada kecanduan pada nikotin,” ujarnya.

Maka itu, ia tak menyetujui jika vaping merupakan solusi rokok konvensional. Menurutnya, ada kasuistik dimana seorang remaja menderita penyakit paru akut karena pecandu rokok elektronik.

“Jadi, klaim vaping lebih sehat itu jelas menyesatkan publik,” ujarnya.

Koordinator Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau, Ifdhal Kasim meminta negara tegas untuk melarang kehadiran Juul dan produk tembakau alternatif lainnya di Indonesia. Terlebih, negara tetangga seperti Singapura dan Thailand melarang total peredaran rokok elektronik.

“Bahkan di Amerika Serikat ada tren ke arah sana juga. Di luar negeri saja ditolak dan dipertanyakan, masa mau dibiarkan masuk ke Indonesia,” katanya.

Deputi I Badan Pengawas Obat dan Makanan, Rita Endang mengatakan, pengawasan BPOM terhadap rokok konvensional, yaitu terkait dengan label, iklan dan kandungan nikotin. Termasuk melakukan pemantauan terhadap rokok elektrik.

“Pada 2019, Badan POM bersama badan kesehatan lain melakukan FGD untuk mengatasi masalah ini yang kami susun dalam draft untuk kebijakan pemerintah,” kata dia. Bagaimana hasil penerapannya, kita tunggu saja komitmen pemerintah ini.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here