Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan hasil investigasi kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat beberapa bulan silam.

Oleh: Suandri Ansah / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan hasil investigasi kecelakaan pesawat Lion Air JT-610. Komite menguraikan beberapa faktor pesawat dengan registrasi PK LQP tersebut terjun bebas ke perairan Karawang, Jawa Barat.

KNTK menjelaskan Pertama, desain maneuvering characteristic augmentation system (MCAS) yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan. Pilot mengalami kesulitan melakukan respon yang tepat terhadap pergerakan MCAS.

“Yang tidak seharusnya karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan,” kata KNKT dalam edaran persnya, Jumat (25/10).

Indikator Angle of Attack (AOA) DISAGREE tidak tersedia di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP. Sehingga informasi sudut terbang menjadi tak akurat pada saat penerbangan.

Penunjukan sudut AOA berbeda antara kiri dan kanan yang tidak dapat dicatatkan oleh pilot dan teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya.

“Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi,” jelas KNKT.

Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-formal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat.

Dengan demikian, pilot maupun teknisi tidak dapat mengambil tindakan yang tepat
Beberapa peringatan, berulangnya aktifasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC tidak terkelola dengan efektif. Hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat, pelaksanaan prosedur non-normal dan komunikasi antar pilot.

“Berdampak pada ketidakefektifan koordinasi antar pilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul kembali pada penerbangan ini.” (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here