Ketua umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto.

Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Partai Berkarya menerima aspirasi dari berbagai elemen masyarakat yang meragukan integritas capim KPK dalam pemberantasan korupsi. Untuk itu, Partai Berkarya meminta hasil seleksi calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dianulir.

“Kami mengimbau Presiden Joko Widodo untuk menolak dan membatalkan keseluruhan hasil seleksi Capim KPK dan mengulang proses dari awal,” kata ketua umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto di Jakarta, Jumat (6/9).

Tommy mengatakan, Berkarya juga menerima banyak respon negatif dari berbagai elemen masyarakat. “Bahkan dari pegawai lembaga KPK itu sendiri. Capim KPK yang ada sekarang banyak melakukan pelanggaran, seperti tidak melaporkan LHKPN, menerima gratifikasi, menghambat kinerja KPK dan melanggar etik saat kerja di KPK,” ujarnya.

Maka itu, Tommy menduga bahwa capim KPK yang bermasalah tersebut jika nanti menjadi Pimpinan KPK akan mudah digunakan sebagai alat politik. Misalnya, untuk menyerang orang-oran atau tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan dengan Pemerintah demi kepentingan Pemilu 2024. Hal ini akan menjadikan kewenangan KPK semakin lemah.

“Kami menolak KPK dipimpin oleh orang-orang yang bermasalah yang akan membuat kepercayaan masyarakat runtuh dan penanganan kasus korupsi menjadi mandek,” tuturnya.

Partai Berkarya juga menolak KPK dipimpin oleh orang-orang bermasalah karena akan membuat penyidik KPK rentan diteror. Sementara tidak ada komitmen perlindungan dari pimpinannya. Ia berharap pemberantasan korupsi di negeri ini semakin hari semakin tajam kepada siapapun tanpa pandang bulu.

“Kami menolak capim KPK yang berasal dari institusi penegak hukum tertentu karena sangat dikhawatirkan terjadinya konflik kepentingan dalam pemberantasan korupsi,” katanya.

Dia menegaskan, jangan sampai pemberantasan korupsi digunakan sebagai alat politik untuk membungkam musuh politik. “Kami juga mendukung agar para koruptor dihukum lebih berat bahkan kalau perlu dihukum mati,” ujar dia. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here