BI mencatat  bulan Juni 2019 Kaltim mengalami inflasi 0,50% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada 0,56 persen (mtm).

Oleh : Muhammad Rizqi

Poskaltim.com, Samarinda — Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (KPw Kaltim) mencatat pada bulan Juni 2019 inflasi tertinggi masih berasal dari kelompok bahan makanan sebesar 2,33 persen (mtm). Sedangkan tekanan inflasi yang lebih rendah disebabkan oleh mulai menurunnya harga komoditas pangan utama pasca Hari Raya Idul Fitri. Harga daging ayam ras di pasar tercatat turun dari Rp36.200/kg pada minggu pertama Juni 2019 menjadi Rp30.350/kg.

“BI mencatat bulan Juni 2019 Kaltim mengalami inflasi 0,50% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada 0,56 persen (mtm). Tingkat inflasi Kaltim periode ini lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,55 persen (mtm),” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Muhamad Nur, dalam rilis inflasi bulan Juni yang diterima Poskaltim.com, Senin (1/79) sore.

Dikatakan, penurunan harga komoditas pangan utama disebabkan oleh berlebihnya pasokan anakan ayam (Day Old Chick) yang berdampak pada peningkatan produksi cukup besar di tengah permintaan yang stabil. Selain daging ayam ras, harga bawang putih yang sempat melambung tinggi pada periode April-Mei 2019 kembali berangsur turun ke harga normal.

Selain bahan makanan, kelompok transportasi juga menunjukkan penurunan tekanan inflasi sejalan dengan mulai meredanya kebutuhan tiket pesawat ke luar Kota Balikpapan.

Penurunan inflasi tersebut juga disebabkan oleh mulai diimplementasikannya penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebesar 12-16 persen untuk tiket pesawat komersil.

”Namun demikian, penurunan inflasi yang lebih jauh tertahan oleh inflasi ikan layang/benggol, kacang panjang, dan kangkung,” kata Nur.

Berdasarkan kota pembentuknya, inflasi kota Samarinda tercatat sebesar 0,15 persen (mtm), dan Balikpapan 0,96 persen (mtm). Inflasi di Samarinda turut disumbang oleh komoditas ikan layang benggol sebesar 14,85%(mtm), jaringan saluran TV berbayar sebesar 6,64 persen (mtm), dan emas perhiasan sebesar 3,25 persen (mtm).

Di sisi lain, inflasi kota Balikpapan bersumber dari komoditas kangkung sebesar 34,37 persen (mtm), kacang panjang 68,54 persen (mtm), dan ikan layang/benggol 23,29 persen (mtm).

Inflasi Kaltim Juli 2019 diperkirakan lebih rendah dibandingkan Juni 2019 sebagai bentuk masih berlanjutnya normalisasi konsumsi pasca HBKN. Namun demikian, tekanan inflasi hadir dari dimulainya tahun ajaran baru untuk anak sekolah.

Nur juga mengatakan, Kantor BI Kaltim dan segenap stakeholder terkait yang tergabung dalam TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) senantiasa memantau perkembangan pergerakan inflasi secara khusus dan perekonomian secara umum baik domestik maupun eksternal.

Sejumlah kegiatan telah dilakukan guna mengantisipasi kenaikan harga yang berkelanjutan, seperti operasi pasar maupun inspeksi mendadak ke pasar tradisional maupun modern serta memantau ketersediaan stok di pasar induk dan distributor utama.

“Hal tersebut dimaksudkan untuk memantau pergerakan harga secara langsung dan memastikan ketersediaan stok di masyarakat. Bank Indonesia secara konsisten akan terus melakukan asesmen terkait perkembangan perekonomian dan inflasi Kaltim terkini guna menuju sasaran inflasi akhir tahun sebesar 3,5+1 persen (yoy),” ujar Nur.(RZQ/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here