Oleh : Farezza AR Firdaus

Poskaltim.com Samarinda — “Kecemplung” dalam dunia jurnalis menjadi kata pertama yang keluar dari mulut Chelzea Verhoeven, salah seorang jurnalis dan presenter salah satu stasiun televisi nasional Indonesia.

Dalam bahasa Betawi arti kata kecemplung adalah tercebur ke dalam air secara tidak sengaja, hingga harus terlanjur basah dan menerima nasib telah basah kuyub.

Itulah sedikit pengalaman yang dibagikan oleh Chelzea Verhoeven yang masuk ke dalam industri broadcaster tingkat nasional yang tentunya memiliki ritme kerja begitu padat. Dunia yang penuh dengan tekanan waktu dan tekanan kerja. NAmun bagi sebagian orang, tekanan pekerjaan justru dinikmati sebagai pemicu munculnya adrenalin.

“Enggak ada kepikiran sama sekali jadi jurnalis,” ujarnya saat ditemui oleh Poskaltim.com, usai dirinya menjadi pembicara dalam Pelatihan Jurnalistik yang digelar di rumah jabatan walikota Samarinda, Sabtu (13/4).

Kedatangan Chelzea memenuhi undangan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) jelas membawa pesan dan membuka wawasan bagi mahasiswa yang ingin mengasah kemampuannya di bidang jurnalis, atau yang ingin menjadi jurnalis. Chelzea hadir pada acara yang bertema “Meneropong Panggung Dunia Jurnalistik Masa Kini,” sebagai bentuk apresiasinya pada dunia yang ditekuninya kini.

Chelzea mengaku bahwa menjadi jurnalis bukanlah impian. Padahal impian awalnya adalah menjadi seorang dokter sebagaimana impian anak-anak sewatu kecil.

“Sebenarnya saya kecemplung sih! Gak ada kepikiran sama sekali jadi jurnalis. Saya lulusan Fakultas kedokteran dengan konsentrasi Ilmu gizi. Jadi semuanya dari nol,” ungkap wanita berkaca mata ini.

Ya, belajar dari nol merupakan keharusan karena dunia kedokteran yang dikecapnya tidak berhubungan sama sekali dengan dunia tulis menulis dan melaporkan kejadian ini.

Ia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mengetahui bagaimana sebenarnya cara kerja jurnalis, bagaimana menjadi presenter live report. Dunia jurnalis yang kadang mudah dilihat ternyata menyimpan segudang tantangan dan pengalaman baru baginya.

Adik ipar Baim Wong itu menerangkan bahwa dirinya diberikan kesempatan untuk belajar menjadi jurnalis oleh Net TV hingga pada akhirnya, ia menyukai pekerjaan yang ia tekuni hingga sekarang.

Perempuan kelahiran 5 Maret 1993 itu menuturkan sewaktu pertama kali terjun di dunia jurnalis, menjadi sebuah tantangan baru yang harus ia taklukkan.

“Untuk pertama kita harus beradaptasi dari susah senang, berat ringan, sampai akhirnya saya semakin cinta dengan pekerjaan ini,” tutur alumni Universitas Diponegoro ini.

Tak hanya itu, Chalzea menyatakan bahwa menjadi jurnalis itu sangat menyenangkan. Bisa berkunjung kemana saja, makan apa saja dan tahu informasi lebih dulu daripada orang lain,” ucapnya.

Selama menjadi jurnalis, pengalaman yang begitu berkesan manakala diberi tugas melakukan liputan gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Ia menuturkan, saat meliput Kota Palu pasca gempa menjadi pengalaman yang berharga. Pasalnya dirinya merasakan perasaan duka yang sangat menyentuh. Kota yang luluh lantak, menjadi pemandangan yang dilihatnya setiap hari selama liputan tersebut.

“Sangat terasa sekali dukanya. Apa lagi kita minum makan mandi bareng-bareng dengan para korban gempa,” ujar perempuan yang mengidolakan Nazwa Shihab tersebut.(RZA/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here