Oleh: Anita Sinuhaji / Yuliawan A

Poskaltim.com, Medan- Tingginya populasi hewan ternak babi di Sumatera Utara (Sumut), yang berjumlah kurang lebih 1 juta 230 ribu ekor babi membuat Balai Besar Karantina Pertanian Belawan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

Penyakit demam babi ini dinyatakan telah menyebar ke wilayah Asia seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Laos, Kamboja bahkan ke negara tetangga Timor Leste.

Dikatakan Kepala Bidang Karantina Hewan, Balai Besar Karantina Pertanian Belawan drh. Suwarno Triwidodo untuk itu Sumut harus betul-betul dijaga semaksimal mungkin dari penyakit yang mudah menular ke hewan babi tersebut.

“Sumut inikan terkenal sebagai sentra peternakan babi mengingat jumlah populasi yang sangat tinggi untuk ukuran Indonesia yakni kurang lebih mencapai 1 juta 230 ribu ekor sehingga di Sumut ini betul-betul harus dijaga semaksimal mungkin agar penyakit itu tidak masuk ke wilayah Sumut,” katanya pada wartawan, Sabtu (5/10).

Dijelaskannya, virus tersebut dulunya berasal dari Afrika namun di bulan agustus 2018 terjadi letupan penyakit tersebut di China. Kemudian sampai sekarang yakni sampai bulan September 2019 ini penyakit tersebut sudah menyebar ke Vietnam, Thailand, Filipina, Laos, Kamboja bahkan ke negara Timor Leste.

Artinya, penyakit ini merupakan penyakit yang cukup mudah penyalurannya penyebarannya melalui babi hidup maupun produk turunannya.

Nah di Indonesia sendiri banyak karantina pertanian sudah melakukan langkah-langkah antisipasi. Salah satunya dengan peningkatan kewaspadaan melalui instruksi yang diberikan ke UPT nya yakni Balai Besar Karantina Pertanian Belawan.

“Kami sudah melakukan langkah antara lain meningkatkan kewaspadaan kami melakukan koordinasi dengan stakeholder yang ada di lingkungan pelabuhan belawan yaitu Syahbandar, Otoritas Pelabuhan, Bea Cukai maupun Pelindo. Koordinasi itu dalam rangka untuk mendukung upaya peningkatan kewaspadaan terhadap masuknya hewan babi maupun produk asal babi yang mungkin ada di pelabuhan belawan meskipun secara resmi sampai dengan sekarang ini tidak ada lalu lintas babi maupun produknya yang dari luar negeri masuk melalui pelabuhan belawan,” terangnya.

Untuk itu, saat ini pihaknya telah melakukan sosialisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yakni mensosialisasikan bahaya ancaman masuknya penyakit tersebut kepada awak kapal, agen pelayaran yang berhubungan dengan kapal-kapal yang sedang bersandar maupun masyarakat yang ada di pelabuhan belawan tersebut.

“Sedangkan melalui sosialisasi secara tidak langsung yakni melalui media banner yang dipasang di Pelabuhan Bandar Deli dan di kantor pelayanan kami,” pungkasnya. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here