Pohon besar berusia ratusan tahun yang menjadi latarbelakang foto, merupakan bukti bahwa masyarakat Kampung Tanjung Soke mampu menjaga dan merawat hutan mereka dengan baik.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com,  Samarinda — Setelah lebih dari 24 tahun usai terbitnya sebuah buku berjudul “Misteri Tanjung Soke” karya Zaulani Idris, barulah pada 26 November 2019, berkesempatan menjejakkan kaki di kampung yang terbilang teguh dalam menjaga keberadaan hutan kampung mereka.

Sebuah desa atau kampung dalam tata administratif Kabupaten Kutai Barat,  bernama Tanjung Soke, Kampung ini terletak di Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kampung ini  dipastikan akan menjadi calon penyangga Ibu Kota Negara Indonesia, manakala Presiden Joko Widodo menetapkan ibu kota negara berada di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Kampung Tanjung Soke, walaupun berada di wilayah administrasi Kutai Barat, namun posisinya bersebelahan dengan beberapa kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara. Bahkan, letak Tanjung Soke ini berbatasan langsung dengan Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) yang notabene adalah tanah milik Negara.

Kunjungan lapangan yang dikoordinir oleh Humas Pemprov Kaltim bekerja sama dengan Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta  Bank Dunia, bertujuan melihat langsung persiapan Kampung Tanjung Soke dan beberapa kampung lainnya disekitarnya, yang masuk dalam program Kampung Iklim+.

Program Proklim+ merupakan komitmen Kaltim untuk turut berperan menurunkan emisi karbon, melalui partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan hutan yang mereka miliki. Diharapkan, partisipasi aktif masyarakat inilah yang menjadi ujung tombak keberhasilan pembangunan rendah emisi di Kaltim khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Untuk mencapai Kampung Tanjung Soke, diperlukan perjalanan sejauh 210  kilometer dari Samarinda, ibu kota Kaltim. Sampai di Kampung Resak, Kecamatan Bongan, kita harus berbelok ke jalan poros yang menghubungkan Kutai Barat dan Kecamatan Petung, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kondisi jalan ini masih jalan tanah, walaupun terdapat beberapa segmen pembangunan semenisasi jalan yang sedang berlangsung.

Tiba di sebuah pertigaan yang warga menyebutnya kilometer 88, jalan menuju Tanjung Soke berbelok kembali ke arah kanan sepanjang 9  kilometer dengan konsidi jalan tanah yang apabila hujan, sangat licin dan sulit dilalui kendaraan, walaupun dengan sistem roda penggerak ganda (4×4  wheel drive) sekalipun.

Perjalanan ke Kampung Tanjung Soke akan melewati beberapa kampung lainnya seperti Kampung  Lemper dan Kampung Deraya. Di sisi barat Tanjung Soke, masih ada satu kampung lagi bernama Kampung Gerunggung, yang berbatasan administrasi dengan Tanjung Soke.

Asal usul nama  Tanjung Soke, menurut warga berasal dari banyaknya tumbuhan Soke, sejenis tumbuhan palem  yang berkerabat dengan pohon Aren dan pohon Nibung.

Jalan berlumpur dan licin akibat hujan, akan menyulitkan siapa saja yang ingin berkunjung ke Desa Tankug Soke dan Gerunggung. Infrastruktur jalan merupakan permasalahan besar yang harus diselesaikan oleh pemerintah, ketika Kampung Tanjung Soke menjadi penyangga ibu kota negara kelak.

Menurut cerita Kepala Adat Tanjung Soke, Sangkunir, kampung ini mulai ada sekitar  tahun 1960. Sebelumnya, masyarakat masih hidup berpindah-pindah tidak menetap. Saat itu, seluruh warga Tanjung Soke yang merupakan  suku Dayak Luangan. Kelompok suku ini juga dapat ditemui di Kecamatan Bentian, Kabupaten Kutai Barat. Namun, yang membedakannya adalah, warga Dayak Luangan di Tanjung Soke sejak tahun 1994, penduduknya yang kini berjumlah 41 Kepala Keluarga, telah memeluk agama Islam hingga kini.

“Jauh sebelum kampung terbentuk, warga memiliki mata pencaharian sebagai peladang, pencari rotan, pencari sarang burung walet dan menjadi pengumpul madu alam. Pekerjaan mengumpulkan madu ini masih dilakoni warga hingga kini. Madu yang dihasilkan merupakan salah satu madu terbaik yang ada di Kabupaten Kutai Barat,” ujar Sangkunir.

Kampung Tanjung Soke dan Kampung Gerunggung, menjadi kampung yang dimasukkan Pemprov Kaltim dalam program Kampung Iklim Plus, karena jumlah tutupan hutan yang  dimiliki masih terpelihara dengan baik dan dijaga oleh masyarakat.

Konsultan Development Social Forest Carbon Partnership Facility/ Carbon Fund,  Ahmad Wijaya menjelaskan Kampung Tanjung Soke masuk dalam 150 Kampung Iklim+ dikarenakan desa tersebut memiliki  hutan yang masih terjaga dengan baik. Tanpa adanya program dari pemerintah pun masyarakat sekitar kampung telah menjaga hutan mereka secara turun-temurun..

“Selain itu, kampung ini juga memiliki posisi yang strategis karena menjadi penyangga ibu kota negara, karena posisinya yang bersebelahan dengan tanah  milik negara yang direncanakan akan menjadi pusat pemerintahan Indonesia,” jelasnya Kamis (28/11).

Diakui Jaya, masih banyak kendala yang harus dibenahi pemerintah Provinsi Kaltim dan pemerintah pusat manakala  Kampung Tanjung Soke ini sebagai pendukung ibu kota Negara Indonesia kelak.

Permasalahan yang dihadapi yaitu minimnya infrastruktur jalan dan jembatan, ketiadaan akses listrik dan telekomunikasi serta belum tersedianya fasilitas kesehatan dan pendidikan dasar hingga menengah yang baik bagi warga. Selain itu persoalan batas antar desa dan batas dengan kawasan budidaya kehutanan (KBK) inilah, Kampung Tanjung Soke harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

Padahal posisi Kampung Tanjung Soke lebih dekat ke Kabupaten Penajam Paser Utara ketimbang ke ibu kota kabupaten Kutai Barat, Sendawar. Namun, Tanjung Soke dan desa-desa lainnya berada “terjepit” diantara belantara hutan kawasan budidaya kehutanan dan perusahaan-perusahaan perkayuan.

“Masyarakat Kampung Tanjung Soke ini berdampingan dengan kawasan budidaya kehutanan. Namun sejak lama para warga telah berhasil menjaga hutan mereka tetap asri dan terjaga hingga kini. Itulah salah satu alasan mengapa Kampung Tanjung Soke dan Gerunggung masuk dalam daftar 150 kampung iklim plus di Kaltim,” jelas Jaya.(YAN/RED)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here