Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Dari lima provinsi di Kalimantan, hanya dua provinsi yaitu Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur yang masih terbebas dari kebakaran hutan dan asap tebal yang membahayakan pernapasan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Frederik Bid mengatakan memang Kaltim tidak terbebas 100 persen oleh kebakaran lahan. Namun jumlahnya sangat kecil dan luasannya juga relatif tidak besar.

“Kita ada juga kebakaran lahan namun dapat cepat diatasi. Laporan yang saya terima kebakaran ada di Kabupaten Mahakam Ulu dan Kutai Kartanegara. Tetapi tidak luas seperti provinsi tetangga kita,” ujarnya saat dialog interaktif di TVRI Kaltim, pada Rabu siang (14/8).

Ditambahkannya, di beberapa wilayah di Kaltim memang ada kabut asap, tetapi bukan berasal dari pembakaran dan kebakaran di Kaltim melainkan asap kiriman dari Provinsi Kalimantan Tengah. Apalagi antara Kalteng dan Kaltim terdapat perbatasan langsung di Kabupaten Kutai Barat. Namun asap kiriman ini tidak sampai ke Samarinda.

“Udara kita di Samarinda cerah dan bersih. Apalagi kemarin sore (Selasa sore/13/8) turun hujan yang cukup lebat. Sehingga Kota Samarinda bebas asap,” ucapnya.

Namun dirinya mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati, jangan sembarangan membakar sampah. Karena, pada cuaca yang sangat terik, membakar sampah rumah tangga dapat saja tertangkap oleh satelit yang memantau titik panas (hot spot).

Dari pantauan Poskaltim.com, titik panas pada Senin malam (12/8) terpantau sebanyak 30 titik dengan tingkat kepercayaan hingga 70% (biru) sebanyak satu titik panas, skala 70-80% (hijau) sebanyak 25 titik dam skala 89-90% (merah) sebanyak empat titik panas.

Namun berdasarkan pantauan satelit MODIS pada Rabu siang (14/8/2019) di seluruh wilayah Kltim hanya terpantau dua titik dengan tingkat kepercayaan dibawah 60 % (biru) dan satu titik dengan tingkat kepercayaan 70 persen.

Deteksi Hotspot (titik api) menggunakan sensor MODIS pada satelit TERRA dan AQUA memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan. Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 km persegi. Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2-4 kali per hari. Pada wilayah yang tertutup awan, maka hotspot tidak dapat terdeteksi.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here