Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Indonesia kalah ketika digugat oleh negara lain dalam sidang di organisasi perdagangan dunia (WTO). Kali ini Indonesia kalah dengan Brazildan harus merelakan keharusan label (sertifikasi) halal untuk selanjutnya ‘ditiadakan’.

Beleid itu tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 29 Tahun 2019 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan yang tidak lagi mewajibkan atau menghapus keharusan label halal.

Kondisi ini membuat MUI prihatin dan perlu bersikap. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, tentu hal itu merugikan. Apalagi Indonesia sudah memiliki Undang-undang Jaminan Produk Halal (JPH) yang mewajibkan adanya sertifikasi halal.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin meminta masyarakat bergerak. Khususnya untuk menolak produk atau tidak membeli produk tanpa dilengkapi sertifikasi halal. Ini seperti yang ditempuh masyarakat negeri jiran, Malaysia.

“Kita khawatir nanti segala macam itu boleh masuk, tak peduli haram atau halal bebas masuk. Makanya gerakan masyarakat untuk menolak yang tidak halal perlu dilakukan. Kita bersatu membeli produk yang jelas halalnya ,” katanya di Jakarta, Ahad (15/9).

Gerakan yang bisa dilakukan bisa seperti aksi Buy Muslim First di Malaysia saat ini sedang marak diperbincangkan, yaitu upaya rakyat Malaysia khususnya Muslim dan Melayu dalam melawan monopoli perdagangan oleh pengusaha Cina di Malaysia.

Prof Didin merespon positif aksi itu dan menyuarakan penguatan ekonomi umat di tanah air dengan merespon positif gerakan untuk mengutamakan membeli produk Muslim atau produk halal.

“Sebagai Muslim, kita harus selalu berusaha memakan produk yang bersih dan halal, dan itu harus diproduksi dengan cara yang halal dan bersih oleh orang-orang yang bersih, tentunya orang-orang yang beriman,” ujarnya.

Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) itu menjelaskan bahwa dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Kami adalah kaum yang tidak pernah mengonsumsi kecuali dari makanan orang-orang yang bertakwa”. Ia menilai, gerakan Buy Muslim First di Malaysia dilandasi kesadaran agama.

“Jadi di Malaysia kesadaran agamanya luar biasa walaupun di sana tidak terlalu banyak regulasi tetapi dengan kesadaran dan ini dampaknya luar biasa. Membuat kelabakan mereka-mereka yang tidak memperhatikan produksi makanan halal,” ujarnya. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here