Kaemita Boediono dan Richard Kyle yang menjadi Duta Orangutan Kalimantan usai pelepasliaran dua individu Orangutan di Kabupaten Kutai Timur.

Oleh : Yuliawan Andrianto

Poskaltim.com, Samarinda — Datang dengan riasan wajah seadanya, raut muka Kaemita Boediono tidak menampakkan keletihan. Padahal, dirinya bersama Richard Kyle dan beberapa relawan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim dan Yayasan Penyelamatan Orangtan Borneo, selama delapan hari melakukan pelepasliaran Orangutan dari Samboja Lestari, Kabupaten Kutai Kartanegara hingga ke dalam Hutan Kehje Sewen di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim.

Kaemita dan Richard menyempatkan datang menemui wartawan di Samarinda pada Sabtu siang (13/7) sebelum akhirnya bertolak ke Jakarta melalui Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda pada sore harinya.

Kaemita yang kerap bermain di sinetron ini telah dua kali datang ke Kaltim dan turut serta dalam pelepasliaran Orangutan Kalimantan (Pongo pymmaeus morio) di Hutan Kehje Sewen. Kaemita dan Richard Kyle memang didaulat menjadi Duta Penyelamatan Orangutan Kalimantan yang dikerjakan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Borneo Orangutan Survival Foundation/BOSF).

Kaemita yang datang dengan T-shirt putih bercorak gambar abstrak Orangutan dan mengenakan sandal gunung yang tampaknya sudah seminggu tidak dicuci, tidak mengurangi semangatnya untuk menceritakan kisah perjalanannnya selama delapan hari berada di hutan Kaltim.

“Saya sangat bahagia manakala menghirup udara di Kalimantan. Udaranya begitu bersih, segar. Berbahagialah orang yang tinggal di Kalimantan karena mereka dapat merasakan udara yang begitu bersih,” ujarnya menceritakan kesannya begitu tiba dan menginap di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari yang merupakan komplek rehabilitasi Orangutan sebelum dilepasliarkan ke hutan.

Walaupun dirinya merasakan panas terik selama berada di Kaltim, namun Kaemita masih merasakan kesejukan dari pohon-pohon yang tumbuh di kiri-kanan jalan dari Kilometer 38 jalan Poros Balikpapan-Samarinda menuju Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur yang berjarak sedikitnya 350 Km.

Perjalanan delapan hari yang melelahkan ini dilakukan Kaemita dan Richard hanya untuk melepasliarkan dua individu Orangutan yang dinilai telah mampu kembali ke habitatnya setelah sekian lama berada di kandang pusat rehabilitasi untuk “sekolah”. Orangutan yang dilepaskan secara langsung oleh Kaemita bernama Laila berusia 22 tahun. Sedangkan yang dilepasliarkan oleh Richard, Orangutan jantan bernama Lilo berusia 25 tahun.

Kaemita bercerita panjang lebar tntang pentingnya penyelamatan Orangutan dan menjaga kelestarian hutan Kalimantan.
Laila adalah Orangutan yang selama di pusat rehabilitasi terkenal memiliki sifat agresif. Uniknya lagi, para pelatih mengatakan jika Laila tidak suka dengan pengasuh wanita dan sangat “cemburu” dengan wanita bertubuh langsing, seperti Kaemita.

Peringatan ini selalu diingat oleh Kaemita. Dia dan Richard tidak ingin pelepasliaran ini hanya sebatas seremoni saja. Mereka berdua bertekad turut melepasliarkan dan memantau kegiatan Laila dan Lilo di alam bebas selama beberapa hari usai pelepasliaran.

“Saya takut juga (sebelum membuka kandang). Tapi saya yakin niat baik akan selalu mendapatkan balasan kebaikan juga. Di depan kandang saya sempat bilang ke Laila bahwa saya ingin mengembalikan kamu ke rumah kamu. Jadi jangan marah yah sama saya. Setelah kandang dibuka, Laila ternyata tidak marah sama saya. Dia hanya menoleh memandangi saya sebelum akhirnya menaiki sebatang pohon,” ujar Kae mengenang.

Dia berharap, pemerintah dan masyarakat dapat turut serta menjaga kelestarian Orangutan Kalimantan yang jumlahnya semakin mengkhawatirkan. Menurut Kaemita, keberadaan Orangutan menjadi pertanda masih baiknya hutan kita. Jika Orangutan punah, berarti tidak ada hutan yang benar-benar baik kondisinya.

Menurutnya, walaupun pekerjaan dia dan Richard adalah pekerja seni tetapi ketika mereka berada di hutan dan bekerjasama dengan para relawan dan pemerintah, maka dirinya ingin agar masyarakat tahu bahwa mereka juga sebagai pekerja konservasi. Beberapa vidoe dan media sosial yang mereka bagikan diharapkan dapat menggugah masyarakat luas betapa pentingnya kelestariah hutan dan habitat didalamnya.

Perjalanan delapan hari di hutan hujan tropis Kaltim kali ini, ujar Kaemita semakin membuat mereka menghargai kerja keras para relawan dan pemerintah dalam pelestarian Orangutan.

“Orangutan itu memang sudah seharusnya berada di hutan dan kita, semua manusia perlu sekali hutan yang sehat, udara yang bersih untuk pernapasan manusia. Seperti kita ketahui bahwa Jakarta menjadi kota nomor satu yang memiliki tingkat pencemaran udara tertinggi di dunia. Orang-orang yang tinggal di Kalimantan seperti Kaltim ini harusnya sangat bersyukur karena memilihi hutan yang seharusnya dijaga sebagai paru-paru dunia,” ucapnya bersemangat.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here