Jaringan Tambang Kaltim menduga ada tambang ilegal yang dieksplorasi di Kecamatan Sambutan, Samarinda

Oleh : Muhammad Rizqi

Poskaltim.com, Samarinda – Permasalahan tambang batu bara di Kalimantan Timur hingga saat ini seperti tiada henti-hentinya, mulai dari kasus tenggelamnya anak di bekas lubang tambang, hingga kecelakaan di lokasi tambang batu bara.

Seperti yang baru saja terjadi di kawasan Makroman, Kecamatan Sambutan Samarinda. Kejadian ini sungguh miris, karena menelan korban hingga dua orang yang saat ini jasadnya belum ditemukan.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim pun mengomentari permasalahan ini. Dari pantauan mereka, Jatam curiga bahwa tambang ini berstatus ilegal, sehingga pengerjaannya tidak profesional sehingga menimbulkan kecelakaan di lapangan. Selain itu juga konsesi tambang nya masih belum jelas berada di kawasan mana, dan tim dari Jatam masih melakukan investigasi.

“Jelas ini tambang melakukan kesalahan besar, karena berlokasi di kawasan yang labil dan rentan, tentuya tambang profesional dan tambang yang mendapat izin tidak akan menambang disitu, tentunya menurut penglihatan kami ini tambang yang bukan legal,” ujar Rupang, selaku Dinamisator Jatam Kaltim, Selasa (2/7).

Dari laporan masyarakat, bahwa tambang ini sudah beroperasi sejak enam bulan yang lalu, namun standar keselamatan pengerjaan tidak dilakukan. Jatam mempertanyakan apakah ada pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah. Provinsi Kaltim
Mirisnya dari laporan masyarakat, bahwa tambang ini sudah beroperasi sejak enam bulan yang lalu, Jatam sendiri melihat bahwa Pemerintah sudah turun tangan sejak dulu. Namun standar keselamatan pengerjaan tidak dilakukan, tentunya sudah diawasi sejak dulu bahkan harusnya dicabut. Jatam mempertanyakan apakah ada pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah.

“Seharusnya ini ranah pemerintah yang turun dari dulu, kami mempertanyakan apakah ada pengawasan dari Pemerintah Provinsi Kaltim dalam hal ini, kami curiga itu tidak dilakukan,” ucap Rupang.

Jatam sendiri akan melakukan penelusuran di lapangan, dari informasi warga bahwa lokasi ini milik PT Arjuna, namun dari hitungan data milik Jatam, lokasi ini milik perusahaan lain, Jatam pun bertanya apakah ada izin penambangan di lokasi tersebut.

“Tambang ini harusnya tidak boleh dilakukan, karena dekat dengan pemukiman, dan membahayakan bagi pemerintah, kami juga curiga tambang yang berkasus ini tidak memiliki CNC, sehingga terjadi kecelakaan seperti ini,” jelas Rupang.(RZQ/YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here