Seorang petugas menunjukkan bagaimana caranya melakukan aplikasi pada pinjaman digital.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Pinjaman digital atau yang lebih dikenal dengan istilah financial tecnology (fintech) saat ini kerap dikeluhkan oleh banyak masyarakat yang terlanjur telah meminjam dana pada peminjaman uang dalam lingkaran (online) tersebut.

Banyak perusahaan fintech yang pada akhirnya melakukan penipuan atas pinjaman nasabah dengan bunga yang berlipat-lipat tidak masuk akal. Sehingga masih banyak fintech ilegal, yang dikeluhkan masyarakat.

Menyikapi hal ini, Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) yang merupakan lembaga resmi bentukan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia sudah melakukan penutupan dan pemblokiran terhadap lebih dari 700 fintech yang ilegal. Ini dilakukan pemerintah untuk menjamin masyarakat bisa lebih aman dan nyaman dalam melakukan transaksi ekonomi khususnya dalam hal perkreditan melalui sistem daring.

Banyaknya kasus yang melibatkan fintech peer to peer (P2P) lending ilegal yang telah dihentikan operasinya berdampak pada tingkat kepercayaan terhadap fintech menciut. Namun AFPI kembali meyakinkan bahwa pengawasan terhadap hal ini terus ditingkatkan oleh pemerintah.

“Kami sudah bekerja keras, dan juga sudah melakukan tindakan tegas terhadap Fintech yang kami anggap illegal, masyarakat tak perlu khawatir. Kini kami juga sudah memegang daftar nama Fintech yang legal dan aman ,” ujar Wakil Ketua Bidang Institutional & PR AFPI, Adelheid Helena Bokaua, kepada awak media, Selasa (3/9) siang.

Dirinya juga menuturkan saat ini ada 120 fintech yang terdaftar dan tujuh sudah mendapat izin dan namanya juga sudah diedarkan oleh AFPI. “Bisnis modelnya berbeda-beda. Disinilah peranan AFPI untuk memberikan edukasi dan sosialisasi, supaya masyarakat paham dan mengerti tentang jenis operasional fintech,” tuturnya.

Dirinya menegaskan, masyarakat jangan beranggapan bahwa semua pinjaman online adalah tidak baik dan tidak bagus. Belum lagi, bunga yang diberikan terkadang cukup tinggi, tergantung dari fintech yang memberikan pinjaman kepada nasabah.

“Padahal kalau dipikir-pikir sih bunga besar tidak juga. Kalau pun dinilai tinggi, ya karena persyaratan ada yang hanya berupa identitas KTP saja. Harus ada foto diri. Persyaratan setiap fintech berbeda-beda dan memberikan kemudahan ke masyarakat,” ucapnya.

AFPI juga mengimbau masyarakat juga harus selektif dalam mencari sumber pinjaman terutama bagi fintech yang namanya belum begitu dikenal. Lebih baik mencari informasi dan juga melihat rekam jejak fintech tersebut, agar tidak salah langkah, yang berujung pada kerugian bagi nasabah yang meminjam dana. (YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here