Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, serangan bom bunuh diri di Polresta Medan adalah upaya teroris mempermalukan Kapolri Idham Azis. Mengingat, Idham merupakan tokoh penting dalam Densus 88 yang baru saja dilantik menjadi Kapolri.

Oleh: Muhajir / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, serangan bom bunuh diri di Polresta Medan adalah upaya teroris mempermalukan Kapolri Idham Azis. Mengingat, Idham merupakan tokoh penting dalam Densus 88 yang baru saja dilantik menjadi Kapolri.

Ditambahkan Neta, sampai saat ini Idham Azis belum berhasil mendapatkan Kabareskrim baru. Artinya, kata Neta, dalam memilih Kabareskrim saja Idham masih tergolong lelet.

“Kasus bom Medan ini sekaligus menunjukkan polri di bawah kepemimpinan Idham Azis sangat lemah dalam sistem deteksi dininya. Baik deteksi dini dari jajaran Densus 88 maupun dari intelijen kepolisian maupun Bareskrim,” kata Neta melalui pesan singkat di Jakarta, Rabu (13/11).

“Bagaimana pula untuk melakukan deteksi dan antisipasi dini terhadap serangan terorisme,” kata dia.

Neta mengatakan, melihat pola serangan di Medan, maka Polri tidak boleh lengah untuk terus menerus meningkatkan deteksi dini. Apalagi selama ini Polri sangat agresif memburu para teroris.

Sementara, terkait pelaku bom bunuh diri, Neta meminta agar menginvestigasi lebih dalam lagi. Penggunaan identitas ojek daring adalah modus baru dalam sistem serangan terorisme di Indonesia. Bisa saja, pelaku hanya mendapat orderan barang dan diminta mengantar barang ke lokasi.

“Polri harus mencermati hal ini dengan serius, apakah korban adalah benar-benar pelaku bom bunuh diri dalam serangan di Polrestabes Medan atau merupakan korban yang diperalat oleh jaringan terorisme,” ujarnya. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here