Oleh: Ari | Yuliawan A

Poskaltim.com, Denpasar – Pengusaha properti dan hotel Hartono Karjadi (HK), telah lama menjadi buronan Polda Bali dan tertangkap di Malaysia. Dia masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait kasus dugaan tindak pidana pemberian keterangan palsu dalam akta otentik atau penggelapan atau pencucian uang.

Setelah ditangkap pihak Interpol di Malaysia, dia diserahkan ke Direktorat Reskrimsus Polda Bali. Hartono diterbangkan dari Kualalumpur, Malaysia, menggunakan pesawat Charter dan tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kamis (1/8/2019) sekitar pukul 03.15 Wita.

Selanjutnya, pria yang ditetapkan sebagai tersangka pada 20 Juli 2018 itu diserahkan ke petugas Direktorat Reskrimsus Polda Bali. Belum ada keterangan resmi dari pejabat Polda Bali terkait penangkapan HK.

Direktur Reksrimsus Polda Bali Kombes Yuliar Kus Nugroho dan Kabid Humas Polda Bali Kombes Hengky Widjaja yang dihubungi tidak mengangkat telepon.

Seperti diketahui, HK ditetapkan tersangka 20 Juli 2018 setelah dilaporkan Desrizal selaku kuasa hukum Tommy Winata, 27 Februari 2018 dalam kasus tindak pidana memberikan keterangan palsu dalam akta otentik atau pengelapan atau pencucian uang sebagaimana pasal 266 KUHP atau Pasal 372 KUHP atau Pasal 3, 4 dan 5 UU RI nomor 8 tahun 2018.

“Tersangka sebagai salah satu pemegang saham menggadaikan sahamnya kepada Bank Sindikasi selanjutnya mengalihkan sahamnnya kepada orang lain dengan kerugian korban mencapai $20 juta,” ujar AKBP Agung Kanigoro yang saat itu menjabat Kasubdit II Direktorat Reskrimsus Polda Bali dalam jumpa pers pada 9 Januari 2019.

Tersangka melalui kuasa hukumnya mengajukan praperadilan dengan termohon Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Direktur Reskrimsus Polda Bali Kombes Anom Wibowo pada 23 Agustus 2018 ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia merasa penetapan dirinya sebagai tersangka tidak sah, legal standing pelapor dan SPDP juga dinilai cacat hukum.

Tapi upayanya lolos dari jeratan hukum kandas setelah Ketua Majelis Hakim Kartim menolak semua permohonan gugatan praperadilan, Senin (17/9/2018). Setelah kalah praperadilan, HK dua kali mangkir dari panggilan Polisi. Bahkan, Polisi mendatangi rumahnya yang terletak di Pantai Mutiara ZH, Pluit, Jakarta Utara. Tapi HK tidak berada di tempat.

Penyidik Direktorat Reskrimsus Polda Bali akhirnya mengeluarkan DPO (Daftar Pencarian Orang) dan tersangka diketahui kabur dari Indonesia pada 20 Agustus 2018 dan terlacak berada di Singapura dalam rangka berobat. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here