Musisi Aji Mirza Hakim atau yang popular dikenal masyarakat Indonesia sebagai Icha Jikustik, bermaksud untuk terjun ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Samarinda.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Pria bernama asli Aji Mirza Hakim atau yang popular dikenal masyarakat Indonesia sebagai Icha Jikustik, bermaksud untuk terjun ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Samarinda.

Icha mengaku, bahwa dirinya sudah mengambil formulir ke Partai PAN dan Partai Demokrat. Walau dirinya masih belum mengembalikan formulir tersebut. Beberapa partai juga sudah ada yang menelepon dirinya. Tetapi Icha mengaku masih belum bisa memberikan jawaban dan lebih memilih membuka diskusi terlebih dahulu dengan timnya.

“Saya terpanggil, yang jelas sudut pandang seorang seniman itu lebih peka dan tajam. Saya melihat Samarinda sudah terlalu banyak organisasi masyarakat (oramas) yang sifatnya kedaerahan. Saya ingin menghilangkan mind set (pola piker) itu dimasyarakat,” ujar Icha, di hadapan wartawan di Samarinda, Kamis (12/9) sore.

Menurutnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang peka kepada masyarakat. Karena dirinya melihat kondisi Samarinda masih kurang perhatian dari pemerintah, maka dirinya ingin turut membenahi kekurangan yang dimiliki oleh Kota samarinda. “Harus pake hati, pemimpin harus peka dan bisa menyentuh langsung ke masyarakat,” tuturnya.

Ada dua hal yang menjadi perhatiannya, diantaranya adalah persoalan seni budaya dan masalah premanisme. Menurutnya dua masalah ini menjadi fokus diri dalam menyusun program yang ditawarkan.

Icha berujar jika terpilih menjadi Wali Kota Samarinda, soal penstabilan harga barang kebutuhan pokok juga menjadi fokusnya. Karena menurutnya Samarinda sudah bisa swasembada pangan khususnya sayur-sayuran.

“Saya tidak ingin mengumbar janji. Yang jelas saya ingin bekerja dengan melihat langsung kondisi masyarakat di lapangan,” ujarnya.

Dirinya juga menggagas “tagline” Harmoni. Hal ini dipakai karena menyangkut tema keselarasan. Dirinya menginginkan warga dan pemerintah bisa menyatu dengan masyarakat.

Dirinya menyadari masyarakat Samarinda yang heterogen bisa bersama maju dalam keselarasan dan hubungan yang harmonis. “Intinya pemimpin itu merangkul, bukan memukul,” jelasnya. (YAN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here