Kebun agro forestry milik Abah Hendri yang berada di Desa Bukit Biru Tenggarong, ramai dikunjungi peminat hutan di saat akhir pekan.

Oleh : Yuliawan A

Poskaltim.com – Tenggarong – Bekerja tulus dan ikhlas dalam membangun hutan, ternyata dapat menumbuhkan semangat dan keyakinan. Keikhlasan itulah yang menjadikan sesuatu yang tidak mungkin ternyata dapat membalikkan ketidakmungkinan.

Itulah yang dilakukan oleh Abah Suhendri, pria berusia 80 tahunan yang tinggal di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Ia dan istrinya, telah tinggal dan menetap di Kota Tenggarong sejak tahun 1970-an. Membeli dua bidang tanah seluas 1,2 hektar (ha) dan 1,3 ha seharga Rp100.000 kala itu.

Abah Hendri, begitu sapaannya, membangun hutan sendirian di lahan miliknya. Saat itu Kota Tenggarong tidak seperti sekarang ini. Di tahun 1970-an lahan yang dibeli Abah Hendri, masih hutan, tidak ada orang yang tinggal di dekatnya. Namun saat ini, ketika kota telah berkembang dan jalan terbangun, lahan abah Hendri yang dinamai oleh pengunjungnya sebagai Agro Forestry ini telah berada di sisi jalan raya.

Hutan yang dibangunya sejak 30 tahun lalu kini tingginya mencapai 30 meter. Pohon-pohon yang ditanam pun bukan jenis pohon hutan Kalimantan.

Usaha yang tidak kenal lelah yang dibarengi dengan keikhlasan inilah yang membuat puluhan jenis pohon Agathis (Agathis L folia) yang ditanam Abah Hendri tumbuh subur di lahannya.

Keikhlasan Anah Hendri ternyata membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi nyata. Hutan yang diangunnya sejak puluhan tahun silam, kini kerap dijadikan obyek penelitian bagi ahli-ahli kehutanan dunia.
“Saya membawanya bibitnya dari Bogor. Seperti jenis pohon Agathis Jawa yang tumbuh di pegunungan. Saya tanya (sama petugas) apakah ini bisa tumbuh di Kalimantan. Dijawab petugas, bahwa pohon Agathis ini hanya bisa tumbuh baik di ketinggian 800 meter. Saya nekad saya bawa bibitnya ternyata bisa tumbuh subur baik di kebun sini,” kenangnya, saat Poskaltim.com dan rombongan wartawan dari Samarinda mengunjunginya, Minggu (3/11).

Berkat usaha dan kegigihannya menjaga membangun dan merawat hutan, lahan seluas 1,2 Ha milik Abah Hendri ini pernah ditawar Rp10 miliar oleh pengusaha setempat Namun, jangankan tergiur menjual lahannya, menebang pohon yang dirawatnya pun Abah Hendri sayang.

Kebutuhan hidup Abah Hendri dan keluarga hanya mengandalkan menjual hasil hutan yang ada di kebunnya, seperti kopi, petai dan jengkol, serta berbagai tanaman sayur lainnya untuk mencukupi kebutuhan dapurnya. Begitupun dengan sumbangan pengunjung yang ingin melakukan penelitian atau sekadar berjalan-jalan di kebun miliknya. Abah Hendri “mematok” tarif Rp25.000 untuk setiap kali kunjungan penelitian dan meminta sukarena bagi kunjungan umum lainnya.

Di lahannya yang telah berpagar kayu ulin ini, Abah Hendri menanam beberapa jenis pohon, pinus, ebony, bambu dan beberapa tanaman khas Kalimantan seperti kayu Ulin dan pohon Kangkala atau Kalima yang buahnya dapat dikonsumsi. Juga ada pohon lain seperti teh dan puluhan jenis bunga dan pohon perdu lainnya.

Abah Hendri mengatakan jika kebun miliknya merupakan kebun contoh untuk membangun hutan yang baik di Kaltim. “Jangan semua hutan dihabisi (ditebang) karena bagaimana anak cuku kita kelak untuk melihatnya secara langsung,” ucapnya.

Benar saja, kebun Abah Hendy ini telah puluhan tahun menjadi rujukan para peneliti dari Universitas Mulawarman dan beberapa peneliti dari berbagai negara lainnya.

“Puluhan profesor lahir dari meneliti kebun saya ini. Mereka meneliti aneka jenis pohon. Tidak perlu jauh masuk ke dalam hutan (di Kaltim) cukup ke sini saja,” ujarnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here