Oleh: Herry M Joesoef

Poskaltim.com, Jakarta – Dalam sebuah diskusi yang bertitel “Tren Gaya Hidup Hijrah, Peluang atau Ancaman bagi NKRI” di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (25/7), ada hal yang menarik untuk dikaji. Seorang pembicara, Ridwan Habib, melontarkan tudingan bahwa hijrah adalah ancaman. Menurutnya, pemahaman seseorang yang rendah dan semangat keagamaan yang tinggi, akan mudah melakukan perbuatan terorisme dan anarkisme, seperti bom bunuh diri.

Tentu saja pendapat tersebut memunculkan perdebatan dan mengusik ketenangan umat Islam. Pasalnya, pernyataan Ridwan tentang hijrah keluar dari pemahaman yang selama ini dipegang oleh mayoritas umat Islam.

Di dalam Islam, semua amalan tergantung dari niatnya. Jika seseorang berhijrah punya niatan akan mendapatkan pujaan hatinya, maka hanya itu yang ia dapatkan. Jika niatnya hijrah agar mendapatkan keuntungan duniawi, maka di situ pula dia akan berlabuh. Guna memperjelas pemahaman ini, kita kutip sebuah hadits yang dinarasikan oleh Umar Ibnu Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Di dalam kitab Shahih Bukhari, bab niat dimasukkan di awal pembahasan, sebagai Mukadimah-nya. Dalam hadits tersebut tersirat dengan jelas bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah akan sia-sia. Amalan tersbut tidak akan menghasilkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

***

Secara bahasa, hijrah berasal dari kata al-hij-ru atau al-hij-ran yang punya makna meninggalkan, baik secara fisik, ucapan, maupun hati. Secara umum, makna hijrah adalah sikap seorang mukmin yang meninggalkan kegiatan maksiatnya menuju hidup dengan penuh ketakwaan.

Adapun orangnya disebut muhajir yang per definisi menurut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, adalah, “Seorang Muhajir itu siapa saja yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah. (HR. Imam Bukhari)
Jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya sudah hijrah, sementara perbuatan maksiat dan sejenisnya masih dilakukannya, hakekatnya ia belum hijrah. Tidak ada pengertian lain dari hijrah kecuali menuju pada kebaikan. Selamat tinggal jahiliyah, selamat datang hijrah.

Mereka yang dulunya belum berhijab, kini berhijab, itu namanya hijrah. Seseorang yang dulunya berkecimpung dengan riba, lalu meninggalkan riba, itu juga hijrah. Mereka yang dulunya kurang ramah kini menjadi ramah, itu juga hijrah; yang dulunya pelit kini rajin bersedekah, itu juga hijrah. Daftar ini masih bisa diperpanjang sepanjang halaman-halaman yang ada. Intinya, hijrah itu meninggalkan keburukan, menuju kebaikan, dan hanya ditujukan untuk mendapatkan ridha Ilahi. Ia mesti ikhlas tanpa batas dalam menjalani kehidupan hijrahnya.

Oleh sebab itu, ketika Ridwan Habib, melontarkan tudingan bahwa hijrah adalah ancaman, tentu ini analisis yang dangkal tanpa acuan yang valid. Orang-orang seperti ini tidak sedikit jumlahnya di Indonesia. Ada orang yang melakukan kebaikan malah ditakuti. Dipersepsikan sebagai ancaman, radikal, dan teroris.

Jika hijrah dianggap ancaman, barangkali itu benar dalam persepsi Iblis. Bukankah Iblis akan terus menerus –sampai akhir zaman– menggoda manusia agar melakukan kemaksiatan dan keburukan kepada umat manusia?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here