Patung Lembuswana lambang Kesultanan Kutai yang dianggap sebagai tunggangan para dewa.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor meminta dukungan masyarakat untuk mendukung dan menyukseskan penetapan Kaltim sebagai ibu kota negara baru.

Walau masih enggan dan bersikukuh tidak menyebutkan dimana titik koordinat lokasi lahan yang akan menjadi “titik nol” ibu kota negara, dirinya merasakan kelegaan setelah Kaltim yang sejak sebelum tahun 2019, masih belum dilirik oleh Pemerintah Pusat.

‘Tadinya Kaltim masih kalah (poin penilaian) dari provinsi lain di Kalimantan sebagai kandidat ibu kota negara. Pada Januari 2019, (posisi) Kaltim hanya 20 persen bobotnya sebagai ibu kota negara. 60 persen itu masih ada di Kalimantan Tengah, dan 30 persen ada di Kalimantan Selatan. Jadi kalau ada yang mengatakan gubernur kurang lobi, biarlah,” ujarnya saat peluncuran Beasiswa Kaltim Tuntas 2019 di Kantor Gubernur Kaltim, Senin sore 916/9).

Kini dirinya merasa senang dan bangga karena cita-cita masyarakat tidak saja Kaltim tetapi Kalimantan untuk pemerataan pembangunan, dapat diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo. Untuk itu Isrn meminta seluruh masyarakat Kaltim untuk mendukung realisasi pemindahan ibu kota negara ke Kaltim.

Sementara itu, Pengamat Seni –Budaya dan Praktisi Pariwisata, Syarifuddin Pernyata menanggapi pertanyaan tentang ikon ibu kota baru nanti. Menurutnya pembahasan tentang ikon ini masih jauh. Namun ia menyarankan ikot ibu kota tersebut haruslah mencerminkan Indonesia secara keseluruhan dalam perspektif modern, green and smart city.

“Yang perlu dipikirkan adalah ikon tersebut bukan saja milik Kalimantan tetapi milik Indonesia, Kedua ikon harus mencerminkan Indonesia ke depan dan ikon tersebut haruslah dapat bertahan selamanya. Jangan sampai ketika 30 tahun mendatang ketinggalan jaman,” ujarnya pada senin sore (16/9).

Lanjut Syafruddin, ikon suatu negara hanya sebagai penanda, tentuya harus berisi filosofis di dalamnya. Tentang keinginan agar Patung Lembuswana dapat menjadi ikon, dianggap pria nyentrik ini mengatakan sebaiknya tidak untuk menghindari pemikiran sektarian.

“Janganlah kita berpikir sektarian, Lembuswana, Kutai, padahal kan ini adalah lambang Indonesia. Jadi ikonnya itu harus ikon Indonesia. Mari kita samakan persepsi dulu , saya rasa pasti ada ikon yang tepat bagi ibu kota negara baru,” ujarnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here