Ketua Presidium Garda Kaltim, Fadel Balher (kiri) menolak beberapa aplikator yang tidak menerapkan ketentuan sesuai dengan keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 terkait tarif dasar untuk aplikasi kendaraan roda dua.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Kaltim yang merupakan organisasi kumpulan dari para pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan sedikitnya pendapatan yang mereka terima karena persaingan yang semakin ketat.

Belum lagi para pendatang baru ini belum menerapkan kesepakatan batas bawah tarif ojek yang telah disepakati dengan Menteri Perhubungan.

Ketua Presidium Garda Kaltim, Fadel Balher, mengatakan mereka menolak beberapa aplikator yang tidak menerapkan ketentuan sesuai dengan keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 terkait tarif dasar untuk aplikasi kendaraan roda dua.

“Karena aplikator yang ada ini menerapkan tarif sangat rendah, tentu membuat aplikator lainnya yang telah beroperasi duluan akan tidak laku,” ujarnya, Sabtu (2/11).

Murahnya tarif yang ditawarkan oleh saingan mereka inilah yang menjadikan Garda Kaltim melakukan protes.

Penumpang atau pengguna jasa tentu akan memilih aplikator yang lebih murah. Aplikasi terbaru tersebut diantaranya Anterin, Ok Jek dan Maxim juga Samojek. Aplikasi ini belum terdaftar dan terbukti menerapkan tarif di bawah standar. Berbeda dengan Gojek dan Grab yang sudah menerapkan tarif sesuai peraturan pemerintah.

“Sudah banyak keluhan dari teman teman ojol di lapangan. Pendapatan driver jadi sangat turun . Bahkan kami khawatir terjadi gesekan yang akhirnya menjadi polemik yang bisa berakibat fatal nantinya,” ungkapnya.

Garda Kaltim pun saat ini sudah mengatur jadwal untuk bisa bertemu dengan pihak pemerintah, dalam hal ini Dinas Perhubungan Kaltim untuk dapat mengatasi permasalahan ini. “Agar pihak aplikator bisa menerapkan tarif yang sesuai. Jangan sampai, ada gesekan baru pemerintah merespon hal ini,” ujarnya. (YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here