Ekonom senior Indef, Faisal Basri

Oleh: Suandri Ansah / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Membanjirnya tekstil asal Negara Cina di Indonesia, diperkirakan produk tekstil tersebut melakukan persaingan tidak sehat dengan melakukan under invoicing. Under Invoicing adalah upaya memanipulasi nilai faktur dengan menurunkannya dari nilai asli untuk menghemat Bea Masuk dan Pajak.

Hal itu dikatakan Ekonom senior Indef, Faisal Basri yang memaparkan mengapa tekstil China mencengkram kuat pasar Indonesia. Dia menduga, ada importir yang memanipulasi nilai faktur.

Faisal menyebut, ada indikasi kuat untuk kode HS 6111 misalnya, dari sisi Indonesia tercatat nilai impor dari China hanya 35,4 persen dari data produk serupa yang dicacat dari sisi China sebagai ekspor ke Indonesia,” kata Faisal di Jakarta, Selasa (12/11).

Faisal memaparkan, laju pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam 16 tahun terakhir hampir selalu lebih rendah dari pertumbuhan PDB. Sementara, industri manufaktur dan industri manufaktur nonmigas melesat dua tahun terakhir.

Dibanding industri tekstil, industri pakaian jadi tumbuh paling cepat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada kuartal III 2019, industri pakaian jadi mencatatkan pertumbuhan sebesar 15,29 persen.

Sedangkan industri tekstil mengalami tekanan. Menurut Faisal, kondisi ini disebabkan terutama karena derasnya produk impor. Sebaliknya, industri pakaian jadi yang tumbuh tinggi justru disokong bahan baku impor. “Karena pemerintah membuka lebar-lebar keran impor dan berdirinya PLB (pusat logistik berikat),” jelas Faisal.

“Sekalipun ekspor pakaian jadi tumbuh lumayan tinggi relatif terhadap produk TPT lainnya, dibandingkan dengan negara tetangga kita mengalami perlambatan pertumbuhan, sudah disusul oleh Vietnam dan Banglades,” imbuh dia.

Faisal menambahkan, industri TPT memegang peranan cukup penting dalam perekonomian. Industri ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dan sumber penerimaan devisa dari ekspor.

Pada tahun 2018, TPT menyumbang 6,47 persen dalam industri manufaktur nonmigas. Transaksi perdagangan kode HS 62 menduduki posisi ke-5 terbesar surplus perdagangan (ekspor minus impor). Sedangkan kode HS 61 di posisi ke-8.

“Pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan perawatannya memang cenderung menurun dan lebih rendah ketimbang pengeluaran konsumsi total,” kata Faisal. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here