Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) era Soeharto, Emil Salim memaparkan jika Kota Jakarta merupakan jantung Ibu Kota memiliki makna dan sejarah sangat mendalam.

Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) era Soeharto, Emil Salim memaparkan jika Kota Jakarta merupakan jantung Ibu Kota memiliki makna dan sejarah sangat mendalam. Setidaknya, ada empat makna Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI).

Pertama, Jakarta sebagai tempat lahirnya Sumpah Pemuda. Ikrar Sumpah Pemuda ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

“Kedua, Jakarta merupakan tempat lahirnya dasar negara Pancasila,” tulis Emil dalam akun resminya, Sabtu (10/8).
Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan Lahirnya Pancasila oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK di Jakarta.

“Ketiga, Jakarta merupakan tempat proklamasi kemerdekaan RI (Republik Indonesia),” cuitnya.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, yang dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini dengan meriah.

“Keempat, Istana Merdeka tempat bendera Belanda digantikan Merah-Putih. Maka, Jakarta sama dengan Ibu Kota dan roh Indonesia Merdeka,” kata Emil.

Sebelumnya, Juru Bicara PKS Muda, Arya Sandiyudha mengkritisi rencana pemindahan Ibu Kota, menurutnya sejak lahir tahun 1527, Jakarta merupakan kota multikultural. Salah satu kota besar di Indonesia dimana isu aseli-pendatang tidak relevan.

Hal ini membuat nyaman sebagai tempat warga lintas etnik tinggal dan bekerja di Jakarta. Sehingga, semua warga Indonesia mudah dan nyaman sepenuhnya menjadi warga Jakarta.

Arya menjelaskan, jika wacana tersebut serius digulirkan, maka permasalahan stabilitas di pusat pemerintahan nanti harus terbebas dari konflik. Namun, menurut dia hal itu tidak mudah diterapkan di Kalimantan.

“Kalaupun ada tujuan ke Kalimantan, maka harus melihat Kalimantan bukan hanya sebagai tempat kekayaan, tapi juga melihat konflik etnik dan sentimen kedaerahan yang masih kuat,” kata Arya kepada Indonesia Inside, Senin (6/8) lalu.

“Karena yang terjadi di berbagai daerah sampai ada pertumpahan darah dan korban jiwa, bukan sekadar perbedaan pendapat,” ujarnya melanjutkan.

Menurutnya, kota Jakarta merupakan kota dimana pimpinan kepala daerahnya bisa berasal dari manapun tanpa harus terkendala sekat suku agama ataupun RAS tertentu. Setiap Gubernur DKI secara bergilir selalu berasal dari ragam tanah kelahiran dan latar suku.

Tidak mudah bagi siapapun menjadi warga Jawa Barat, meskipun dia tinggal di Jawa Barat. Tidak semua bisa dipersepsi warga aseli Jawa Barat meski tinggal di Jawa Barat,” ujarnya.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here