Oleh: Rudi Hasan / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Dua pecan lebih krisis di Papua Barat dan Papua belum terselesaikan secara tuntas. Eksponen Muda Lintas Iman Indonesia (EMLI) menyebut krisis di Papua dan Papua Barat harus segera dituntaskan. Solusi pasti untuk hal itu yakni pembentukan satuan tugas atau task force.

“Pimpinan dan keanggotaan dari gugus tugas hendaknya diprioritaskan bagi putera-puteri Papua dari berbagai latar belakang, yang sungguh-sungguh memahami masalah-masalah mendasar di Papua,” kata Sekjen EMLI-Indonesia, Viktus Murin di Jakarta Pusat, Ahad (1/9).

Menurutnya, ada kemitraan intensif yang harus dibangun oleh satgas. Yakni bersama pemimpin umat beragama di Papua, berikut dengan lembaga-lembaga keagamaan seperti Sinode Gereja, Keuskupan, MUI, serta para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda di Papua.

Menurutnya, Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada 2 Agustus 1969 yang hasilnya disahkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam Resolusi 2504 (X8IV) Majelis Umum sudah bulat. Hal itu merupakan penegasan sikap rakyat Papua terkait nasib mereka.

Dengan dan tanpa penentuan itu, Papua, kata Viktus, merupakan bagian sah dari NKRI sejak Indonesia merdeka. PEPERA tetap sah sebagai outcome dari penyelesaian konflik bilateral berdasarkan perjanjian bilateral RI-Belanda (New York Agreement 1962).

EMLI sendiri mengapresiasi kinerja Polri dalam mengatasi kerusuhan di Papua. Viktus menyebut tindakan cepat Kepolisian ini merupakan manifestasi sikap menjunjung tinggi supremasi dan atau penegakan hukum.

“Bersamaan dengan itu, para penegak hukum di ranah pengadilan hendaknya menjatuhkan hukuman berat bagi siapapun pelaku tindakan provokasi yang membonceng sentimen SARA dan tindakan intoleransi,” kata Viktus.

EMLI, kata dia, mengajak seluruh pihak untuk menahan diri. Mereka diimbau selalu mengedepankan pendekatan persuasif untuk menghadapi setiap potensi gejolak sosial yang terjadi.

“Warga masyarakat bumi cendrawasih Papua sesungguhnya adalah warga Indonesia yang berkarakter Bhineka Tunggal Ika, yang menjunjung tinggi kemajemukan, berjiwa besar dan atau patriotik, serta mengutamakan perdamaian dan persaudaraan sebangsa-setanah air,” kata dia. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here