Oleh: Andryanto S / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Berlomba dalam menarik investasi asing dan perdagangan, Indonesia masih kalah bersaing dengan Vietnam, Thailand, dan Malaysia dalam menarik investasi asing terutama relokasi pabrik dari China.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menilai realisasi investasi asing memang mandek dalam beberapa waktu terakhir disebabkan salah satu faktornya karena dominasi BUMN sehingga swasta tersisihkan.

“Banyak kegiatan swasta semakin ditarik oleh BUMN yang mau mengerjakan semuanya sendiri, sehingga mengurangi peranan dari swasta,” kata Thomas Lembong di Jakarta, Rabu (11/9) malam.

Menurut dia, dominasi BUMN terutama dalam proyek pemerintah sebenarnya bisa disinergikan dengan peran swasta agar tercipta ekuilibrium baru. “Dominasi BUMN dan hubungan dengan pengusaha swasta yang kurang kondusif. Kami akan tinjau lagi,” ujarnya.

Selain faktor dominasi BUMN, Thomas juga empat keluhan investor, salah satunya regulasi yang tumpang tindih dan bertele-tele. “Tumpang tindih kewenangan atau suka berubah mendadak tanpa pemberitahuan dahulu. Kemudian juga perizinan yang bertele-tele dan pendaftaran dijadikan izin, syarat dijadikan izin,” kata Lembong.

Lembong menjelaskan hal kedua yakni insentif perpajakan yang masih perlu diringankan bagi para investor, ketiga adalah urusan lahan di lapangan di mana di daerah jelas banyak sekali sengketa lahan dan ada kesulitan untuk membebaskan lahan hingga terkait izin bangunan dan sertifikat layak fungsi dengan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak kecil. Selanjutnya yang keempat mengenai ketenagakerjaan yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan revolusi industri 4.0.

Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Wachid juga menyoroti banyaknya investor asing yang merelokasi pabriknya dari China ke negara-negara di Asia Tenggara selain Indonesia yaitu Vietnam, Thailand dan Malaysia. “Secara pribadi saya mengurus izin saja lama sekali tidak selesai-selesai. Bahkan kalau ngurus di daerah juga lebih sulit. Mungkin ini salah satu penyebabnya juga,” kata Abdul Wachid di Jakarta, Kamis (12/9).

Menurut Abdul Wachid, perizinan yang sulit dan memberatkan menjadi penyebab banyaknya investor asing beralih memilih negara lain selain Indonesia karena banyaknya kesulitan dalam mengurus perizinan, terutama di daerah.

Politisi Partai Gerindra tersebut mengatakan, sebagai warga negara yang baik, seharusnya masyarakat memberikan kemudahan dalam setiap pengurusan berbagai jenis perizinan, sehingga juga membuat banyak investor asing tertarik pula.

“Kalau misalnya masyarakatnya sendiri saja dipersulit, bagaimana dengan investor asing? Seharusnya dimulai dengan memudahkan rakyat saja dahulu, kemudian pasti akan banyak investor luar yang akan melirik negara ini,” katanya.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here