Oleh: Ahmad ZR / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Indonesia dengan bentangan hamparan luas dan dilewati garis khatulistiwa memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah dan beragam. Kekayaan tersebut menjadi aset dan modal bagi bangsa Indonesia menjadi negara maju dan unggul dibanding negara lainnya.

Namun dibalik kekayaan SDA yang melimpah, Indonesia berpotensi banyak terjadi bencana alam. Mayoritas tanah yang ditempati manusia adalah sambungan dari lempengan-lempengan bumi yang tiap saat bergerak dan mengalami gesekan, sehingga setiap saat di beberapa penjuru tanah air terjadi gempa walaupun kecil.

Meski mengandung hikmah dan pembelajaran di setiap bencana yang terjadi, masyarakat mengalami kehilangan berbagai aset yang dimiliki, mulai dari sawah, rumah, kendaraan, perkebunan, hingga sanak keluarga. Perlu upaya pemulihan (recovery) panjang untuk memulihkan kembali ekonomi masyarakat, terutama psikologis penyintas bencana.

Merespon hal tersebut, 33 tahun silam, mendiang Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto menginisiasi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto (YDGRK). Sejak berdirinya pada 1986, YDGRK yang didukung oleh Presiden Soeharto selaku pribadi, dikhususkan untuk membantu korban bencana alam yang ada di Tanah Air.

Ibu Tien berpandangan, bahwa negara belum punya alokasi anggaran yang memadai untuk menghadapi kejadian-kejadian bencana, yang datangnya bisa saja tiba-tiba. Maka ia cetuskan ide menggerakkan solidaritas masyarakat dalam pengumpulan dana dari seluruh lapisan masyarakat yang mampu, sebagai dana “siaga bencana”. Dana itu untuk meringankan penderitaan sesama akibat musibah kemanusiaan.

Ajakan Ibu Tien Soeharto disampaikan dalam pertemuan di Istana Bogor 30 Maret 1986 mendapat simpati dan dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat serta para pengusaha nasional kala itu, yang memiliki kepedulian besar terhadap masalah-masalah sosial kemanusiaan. Maka kemudian muncullah pembentukan Panitia Dana Gotong Royong Kemanusiaan.

Status kepanitiaan itu kemudian ditingkatkan menjadi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK). Ide itu kelak mampu berpartisipasi dalam meringankan beban kemanusiaan dalam 718 kejadian bencana di 963 lokasi, baik bencana-bencana di dalam maupun luar negeri.

Termasuk korban musibah bencana terowongan Mina dan korban perang teluk Persia (melalui PMI) juga merasakan sentuhan manfaat dari ide ini. Ibu Tien bukan saja seorang istri Presiden, akan tetapi juga merupakan sosok pejuang yang patut menjadi contoh bagi kita semua.

Ibu Tien Soeharto tergetar oleh pidato Presiden Soeharto yang disampaikan dalam momentum peringatan ke-40 tahun berdirinya Organisasi Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization of The United Nation Organization/ FAO UNO) di Roma. Dalam pidato tersebut, Presiden Soeharto menjelaskan sekaligus berbagi pengalaman atas keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras.

Di depan sidang itu, Presiden Soeharto menyatakan, sebagai ungkapan rasa syukur bangsa Indonesia dan ungkapan simpati para petani Indonesia kepada sesama petani yang sedang bergumul dalam perjuangan memperbaiki nasib, maka para petani Indonesia secara gotong-royong dan sukarela berhasil mengumpulkan gabah sebanyak 100.000 Ton.

Presiden Soeharto mengungkapkan, para petani Indonesia telah memintanya untuk menyerahkan gabah itu kepada FAO, untuk selanjutnya diteruskan kepada saudara-saudara mereka dengan keluarganya yang mengalami kelaparan di berbagai kawasan, khususnya di Benua Afrika.

Pidato itu ternyata menyentuh sikap batin Ibu Tien Soeharto. Karenanya, Ibu Tien Soeharto kemudian mencetuskan gagasan untuk menggerakkan solidaritas masyarakat dalam pengumpulan dana dari seluruh lapisan masyarakat yang mampu, sebagai dana siaga bencana yang sangat dibutuhkan untuk meringankan beban penderitaan sesama akibat musibah kemanusiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here