Desa Pela di KecamatanKota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara menawarkan kegiatan tangkap ikan dengan tangan kepada wisatawan yang berkunjung. Sensasi menangkap ikan dengan tangan akan dirasakan ebrbeda dengan memancing atau menjala.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda — Menangkap ikan dengan alat tangkap seperti pancing atau jala mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi sebagian orang. Namun, sensasi berbeda mungkin akan didapatkan jika menangkap ikan dengan tangan, baik dari kolam yang sengaja diberi ikan atau menangkapnya langsung di rawa-rawa.

Itulah kemeriahan yang ditawarkan kepada wisatawan yang berkunjung oleh Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Memang musim ikan tidak tentu bulan apa, tetapi ikan akan berlimpah jika Sungai Mahakam banjir besar ataupun sebaliknya jika sungai kering ,” ujar Alimin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh, Beimbai, Beadat (3B) yang ditemui di Samarinda, pada Kamis (4/7) disela-sela kegiatan Forum Diskusi Grup tentang kelayakan usaha pariwisata di Kaltim.

Lanjut Alimin, menangkap ikan dengan menggunakan tangan kosong di pinggir biasanya dilakukan saat merayakan rasa syukur mereka atas hasil panen ikan yang melimpah yang diterima oleh warga desa.

Warga Desa Pela yang hampir seluruhnya berpencaharian sebagai nelayan air tawar atau sungai,sangat bergantung pada hasil alam berupa ikan di desa mereka. Bentangan Sungai Mahakam dan Danau Semayang, membuat masyarakat tak pernah kehabisan stok ikan sepanjang tahunnya.

“Selain dikonsumsi dan dijual segar, kami warga Desa Pela juga membuat ikan asin dan ikan salai atau ikan asap. Bedanya jika air sungai pasang ikan yang tertangkap beraneka macam ikan sungai, namun jika air kering biasanya ikan yang ditangkap ikan Baung. Dan ikan inilah yang dijadikan ikan salai,” jelasnya.

Kebiasaan menangkap ikan dengan tangan lantas dijadikan lomba untuk menarik wisatawan. Bahkan wisatawan disarankan untuk turut serta agar merasakan kemeriahan yang telah menjadi tradisi warga.

Terkadang jika untuk keperluan lomba, panitia juga melepaskan belut sungai yang rupanya mirip dengan ular dan kerap membuat peserta geli dan ketakutan saat menangkap hewan licin ini.

“Lomba ini sangat menghibur kami, ini juga sebagai cara kami bersyukur dengan hasil alam yang ada selain itu juga kami merasa semakin dekat dengan warga lainnya dan keakraban semakin terasa dengan adanya acara ini,” ujar Alimin.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here