Oleh: Nurcholis / Yuliawan A

Poskaltim, Hong Kong – Gelombang pengunjuk rasa yang telah terjadi beberapa pekan lalu di Hongkong, meminta Presiden Donald Trump membebaskan kota itu yang berada di bawah kekuasaan Cina.

Aksi tersebut merupakan langkah terkini dari pada pengunjuk rasa, setelah melakukan serangkaian demo yang membuat kota menjadi tegang selama beberapa bulan.

Aparat kepolisian bersiaga saat para pengunjuk rasa mengibarkan bendera AS “Bintang dan Garis-garis” dan plakat, dalam usaha meminta bantuan AS untuk demokrasi setelah kekerasan kembali terjadi di pekan ke-14 dalam suasana rusuh.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mendesak pemerintah Cina untuk menahan diri di Hong Kong, Sabtu (8/9) dikutip Reuters.

Esper melakukan panggilan telepon di Paris ketika polisi di Hong Kong mencegah pengunjuk rasa menghalangi akses ke bandar udara, tetapi menembakkan gas air mata di distrik padat penduduk Mong Kok selama dua malam berturut-turut.

Pimpinan Hong Kong Carrie Lam mengumumkan konsesi pekan ini dengan tujuan menghentikan protes-protes yang berlangsung, termasuk dengan mencabut RUU Ekstradisi yang banyak ditentang dan menyebabkan ketegangan dimulai pada bulan Juni lalu.

Banyak pemrotes menganggap keputusan tersebut terlalu terlambat.

Hong Kong, yang merupakan bekas koloni Inggris, kembali ke Cina pada tahun 1997 di bawah kebijakan “satu negara, dua sistem” yang menjamin kebebasan yang tak berlaku di daratan. Banyak warga Hong Kong khawatir Beijing akan mengikis otonomi itu.

Cina membantah tuduhan telah ikut campur dan mengatakan persoalan Hong Kong adalah urusan internal. Mereka mengecam protes itu dan memperingatkan akan dampak buruk bagi ekonomi. Mereka juga menuduh Amerika Serikat dan Inggris mengobarkan kerusuhan. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here