Pohon Kedemba yang bernilai ekonomis, sejak awal tahun 2019, telah dibudidayakan oleh masyarakat di Kota Bangun yang berada dialiran anak Sungai Mahakam. Harga daun basah dihargai Rp2.700/Kg.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Disaat masyarakat pada beberapa desa di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim giat memetik daun Kedemba untuk dijual ke pengepul dengan harga Rp2.700 per kilogram (Kg), muncul sejumlah paparan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang mengatakan bahwa daun Kedemba ini mengandung psikotropika.

Walau belum ada pelarangan secara resmi, daun Kedemba sejak awal tahun 2019 ini dicari pengekspor untuk dikirim ke luar negeri dengan pangsa pasar ke Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Harga daun Kedemba kering di tingkat pengepul di Kaltim dihargai Rp21.000/ Kg.

Tenaga Ahli Forest Carbon Patrnership Found (FCPF) Bidang Sosial, Achmad Wijaya mengatakan untuk tidak gegabah dengan hasil penelitian dari luar negeri yang menjadi dasar peringatan BNN.

Menurut Achmad Wijaya, daun Kedemba yang tulang daunnya berwarna merah menjelaskan jika ada kandungan plavonoid dan anti oksidan. Begitupun dengan kandungan mineral lainnya, diyakini sanat bermanfaat oleh tubuh manusia, seperti halnya pemanfaatan turun temurun daun tersebut oleh masyarakat Kaltim.

“Jika mengandung psikotropika, harusnya dilakukan isolasi terhadap bahan psikotropikanya dan bukan manfaat daun secara keseluruhan yang memiliki banyak khasiat,” jelasnya pada Poskaltim.com, Rabu (23/10).

Tanaman Kedemba yang tumbuh liar di pematang sawah yang dekat dengan aliran sungai, menjadikan Kedemba tanaman ekonomi bagi warga untuk dijual daunnya.
Dijelaskannya, daun Kedemba dalam bahasa Indonesia atau Kratom dalam bahasa dagang internasional, banyak dimanfaatkan masyarakat lokal yang tinggal di pesisir sungai dan tanah rawa. Sejak turun temurun, daun Kedemba digunakan untuk pengobatan wanita usai melahirkan, menjaga dan mengembalikan stamina pria, sebagai obat anti insomnia serta yang paling umum ditemukan adalah daun ini dijadikan campuran untuk masker wajah pada wanita Kalimantan yang dikenal dengan istilah “pupur dingin” atau bedak dingin.

Wijaya mengatakan, dari hasil kajian peneliti asal Thailand disebutkan, jika daun Kedemba dapat berfungsi sebagai pengganti daun ganja untuk penyembuhan atau ketergantungan dalam proses rehabilitasi. Selagi proses detoksifikasi, tubuh yang sakau membutuhkan ganja yang notabene ilegal, dapat digantikan oleh daun Kedemba yang lebih aman dan legal.

Namun, Wijaya menegaskan perlunya penelitian lebih lanjut oleh peneliti Indonesia, tentang manfaat dan mudarat penggunaan daun yang tumbuh subur di pesisir anak sungai di Kaltim ini.

“Ini bisa saja menjadi persaingan bisnis, jika daun Kedemba dapat menjadi pengganti dalam pengobatan kecanduan ganja dan zat adiktif lainnya. Jadi kita tidak perlu latah menerima hasil penelitian dari luar negeri. Sebaiknya kita teliti lagi,” ucapnya.

Menurut pria yang juga menjadi anggota Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim ini, bagi masyarakat desa, mencari daun Kedemba merupakan penghasilan tambahan bagi keluarga. Pohon-pohon Kedemba banyak tumbuh liar di sepanjang aliran sungai Mahakam dan anak-anak sungainya.

Bagi warga, mencari ikan dengan penghasilan Rp100.000 per hari, lebih sulit ketimbang mencari daun Kedemba yang tumbuh liar tanpa pemilik. Jika nantinya kebijakan pemerintah RI menyatakan daun ini aman diperdagangkan, bisa jadi Kaltim menjadi penghasil daun Kedemba kering terbesar di Indonesia.

Saat ini, daun Kedemba yang diekspor melalui pengepul besar di Pontianak, Kalimatan Barat, kabarnya dijadikan ramuan bahan spa. Setelah diolah kembali dalam beberapa proses, daun dijual dengan harga ekspor Rp300.000 per Kg.

“Rekan-rekan di Universitas Mulawarman Samarinda saat ini tengah meneliti manfaat daun Kedemba ini. Semoga dalam waktu dekat hasilnya dapat diketahui publik. Soal daun Kedemba mengandung psikotropika, sebenarnya hal itu dapat diisolasi atau dihilangkan, khasiatnya bisa manfatkan” tutur Wijaya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here