Tanaman Kedemba yang tumbuh liar di pematang sawah yang dekat dengan aliran sungai, menjadikan Kedemba tanaman ekonomi bagi warga untuk dijual daunnya.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Kutai Kartanegara – Disepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Mahakam dan beberapa anak sungainya, banyak sekali ditumbuhi oleh tanaman liar bernama Kedemba. Tanaman liar dengan nama latin Mytragna Speciosa ini kini menjadi penghasil pundi-pundi ekonomi keluarga masyarakat karena daun Kedemba basah dapat dijual seharga Rp2.700 oleh pengepul.

Tanaman kayu keras ini dapat tumbuh subur setinggi 10-15 meter di daerah rawa-rawa dengan daun yang rimbun. Pada usia satu tahunan, pohon Kedemba tumbuh tegak tanpa percabangan.

Dengan nama daerah yang bermacam-macam pohon Kedemba disebut Kadamba dalam bahasa Banjar, Suri dalam bahasa Paser dan Kedemba dalam bahawa Kutai, yang sama dengan bahasa Indonesianya.

Secara tradisional, warga Kaltim memanfaatkan Kedemba ini sebagai obat penyembuhan wanita yang telah melahirkan dan untuk bahan bedak beras atau warga menamakan “pupur dingin atau bedak dingin’. Selain itu, Kedemba juga dimanfaatkan sebagai obat kuat dan penjaga stamina untuk pria.

Produk daun kering giling Kedemba dari Kaltim, diproses lagi di Pontianak sebelum dikirim ke luar negeri. Tujuan ekspornya, Amerika Serikat dan Italia. Kabarnya dijadikan bahan untuk spa dan kecantikan kulit. Sama seperti pemanfaatan daun Kedempa oleh masyarakat lokal yang mencampurkannya ke bedak mereka untuk menangkal sinar matahari manakala mereka ke sawah atau ke ladang.

Daun Kedemba kering produksi Saukani di Desa Seblimbingan. Aroma daun ini mirif dengan aroma teh hijau.
Sejak awal tahun 2019, seorang pengusaha asal Pontianak datang ke Desa Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Dia melihat potensi pohon Kedemba yang banyak tumbuh liar. Pengusaha asal Pontianak tersebut meminta warga untuk mengumpulkan daun Kedemba, dengan cara diolah hingga setengah jadi dalam bentuk serbuk kering giling.

Dari tumbuhan liar, kini Kedemba ditanam secara intensif oleh warga. Bahkan Saukani, seorang pengusaha lokal di Desa Seblimbingan mengaku telah menanam 10 ribu pohon Kedemba di lahan miliknya. Saukani yang menjadi pengepul ini menceritakan, jika daun basah yang dibeli dari petani akan diolah lagi menjadi daun kering giling halus.

“Daun yang telah digiling halus ini dihargai Rp21.000 oleh pengepul di Pontianak. Pengepul datang langsung ke desa kami. Kebutuhan setiap bulan sebanyak 900 ton, namun kami hanya bisa memenuhi sebanyak 20 ton saja per bulannya,” ujar Saukani, pada Selasa (22/10).

Dari usahanya, Saukani kini dapat mempekerjakan 28 pekerja, terutama perempuan untuk proses penggilingan, pembersihan tulang daun hingga pengepakan dalam wadah plastik besar sebelum diambil pengepul besar.

“Produk daun kering giling saya dihargai Rp21.000 oleh pengepul besar. Mereka ambil sendiri barangnya. Mereka sediakan truk menuju Pontianak,” jelasnya.

Produk kering giling daun Kedemba berbentuk serbuk halus semacam teh kasar. Namun, warna hijau masih dominan terlihat. Tidak seperti teh giling yang berwarna cokelat tua. Begitu pun dengan aromanya mirip dengan aroma teh hijau.

Walau mulai dibudidayakan oleh masyarakat setempat, namun masih ada keragu-raguan warga menanam pohon fast growing ini, karena perdagangan Kedemba atau dalam bahasa internasionalnya disebut Kratom ini, masih dalam banyak pendapat yang bersilangan.

Kedemba atau Kratom dianggap mengandung psikotropika yang setara ganja dan heroin, apabila diolah lebih lanjut. Bahkan daun kering Kedemba ini diyakini dapat menjadi ancaman bagi generasi muda karena efek psikotropika yang terkandung di dalam lembaran daunnya.

Saukani mengatakan sebelum ada larangan resmi dari pemerintah, ia tetap menerima daun segar warga dan memprosesnya menjadi daun kering giling untuk disuplai ke pengepul besar. “Karena ini menguntungkan, pohon Kedemba liar banyak di desa kami,” ucapnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here