Kebijakan baru dari China tersebut diperkirakan akan membuka potensi ekspor yang lebih besar bagi komoditas-komoditas Indonesia terutama minyak sawit mentah.

Oleh: Andryanto S / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Ekspor kelapa sawit ke negara China terbuka lebar setelah negeri berjuluk Tirai Bambu tersebut berencana untuk menghapus kuota untuk minyak sawit, minyak kedelai dan minyak lobak dari manajemen kuota tarif impornya. Hal itu berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China pada Rabu (7/8) waktu setempat.

Berita itu muncul setelah kementerian menyatakan pada Selasa (6/8/2019) bahwa perusahaan-perusahaan China telah berhenti membeli produk-produk pertanian AS sebagai tanggapan atas keputusan Presiden AS Donald Trump pekan lalu untuk memberlakukan tarif pada 300 miliar dolar AS impor China lainnya, dengan tajam meningkatkan saling balas sengketa perdagangan antara ekonomi terbesar di dunia itu.

Komoditas-komoditas telah dihapus dari rancangan daftar manajemen kuota tarif yang dimuat di situs resmi Departemen Perdagangan, yang berarti mereka tidak akan dikenakan pembatasan yang mungkin dikenakan pada produk lain seperti gandum, jagung, dan beras.

Kebijakan baru dari China tersebut diperkirakan akan membuka potensi ekspor yang lebih besar bagi komoditas-komoditas Indonesia terutama minyak sawit mentah. Di semester I 2019, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat kinerja ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia dan produk turunannya seperti biodiesel dan oleochemical hanya naik 10 persen.

Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menyebutkan volume ekspor CPO dan produk turunannya pada semester I 2019 naik menjadi 16,84 juta ton dari periode yang sama tahun 2018 sebesar 15,30 juta ton. “Kenaikan volume ekspor ini seharusnya masih bisa digenjot lebih tinggi lagi, akan tetapi karena beberapa hambatan perdagangan membuat kinerja ekspor tidak maksimal,” kata Mukti.

Sementara itu, volume ekspor khusus CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) semester I 2019 hanya mampu terkerek 7,6 persen atau dari 14,16 juta ton pada Januari–Juni 2018 naik menjadi 15,24 juta ton pada 2019.

Mukti menilai kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tidak tumbuh secara maksimal karena dinamika di pasar global, khususnya di negara tujuan utama ekspor seperti India, Uni Eropa, China, dan Amerika Serikat.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here