Oleh: Herry M Jusuf

Poskaltim.com, Jakarta – Seorang teman mengirim foto kemasan air yang bertuliskan “Do not waste water even if you were at a running stream (Jangan boros dengan air walaupun Anda berada di sungai yg mengalir)”, di bawahnya tertulis Nabi Muhammad. Kemasan botol air mineral itu beredar di Australia, sebuah negeri kafir yang tidak berpijak pada syariat Islam. Meskipun demikian, mereka tidak malu untuk mengambil kata-kata bijak yang bersumber dari lisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pemanasan global dalam dua dekade belakangan ini telah mengantarkan para ahli lingkungan mengkampanyekan gerakan menghemat pemakaian air. Banyak para ahli memprediksi bahwa, di masa depan, perang bisa dipicu karena negara-negara berebut sumber-sumber mata air. Hal ini menujukkan bahwa air tidak bisa dilepaskan dari hajat hidup manusia.

Umat Islam adalah umat yang tidak bisa lepas dari air. Ka’bah dibangun di pusat sumber air, zam-zam. Pesantren-pesantren di Jawa, misalnya, dibangun di dekat-dekat sumber air, seperti sungai dan mata air. Wudhu adalah tata cara bersuci umat Islam dengan menggunakan air. Tetapi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sejak awal telah memberikan contoh bagaimana semestinya menggunakan air secara hemat.

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Sahabat Sa’ad yang sedang mengambil air wudhu. Melihat cara Sa’ad menggunakan air dengan boros, beliau berkomentar, “Alangkah borosnya.” Sa’ad pun bertanya, “Apakah dalam berwudhu juga dikatakan boros?”

“Ya, walaupun engkau berada di sungai yang mengalir,” jawab Rasul. Hadits ini dinarasikan oleh Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma dan dikeluarkan oleh Imam Ahamad dan Ibnu Majah.

Kasus wudhu ini sangat menarik. Mengapa? Karena di satu sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan agar kita menyempurnakan (isbagh); di sisi yang lain beliau memerintahkan agar berhemat dalam penggunaan air. Ini artinya, berwudlu dengan sempurna tidak berarti berlebih-lebihan dalam menggunakan air.

Lalu, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggunakan air untuk kepentingan kebersihan badan dan berwudhu? Imam Bukhari dan Imam Muslim mngeluarkan hadits yang dinarasikan oleh Anas bin Malik, “Rasulullah mandi dengan satu sha’ air lima mud, dan wudhu dengan satu mud.” Satu sha’ sekitar 2,75 liter,sedangkan satu mud setara dengan 0,68 liter.

Jika dikonversikan ke liter, Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa Sallam berwudhu dengan menggunakan air sekitar setengah liter lebih sedikit, dan mandi dengan air kurang dari 3,5 liter. Begitulah cara beliau memberi keteladanan dalam penggunaan air. Tidak ada agama di dunia ini, kecuali Islam, yang memberikan contoh riil atas penggunaan air secara efisien dan efektif, walaupun itu untuk bersuci. Jika untuk bersuci saja dianjurkan untuk berhemat, apalagi untuk kepentingan di luar bersuci. (HMJ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here