Oleh: Suandri Ansah / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Pemangkasan suku bunga acuan ini dilakukan BI untuk keempat kali secara berturut-turut sejak Juli 2019.

Dikutip laman resmi BI, pada jalur suku bunga, perubahan BI 7DRR mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, penurunan suku bunga bisa dilakukan sebagai kebijakan moneter yang ekspansif.

Di kawasan ASEAN, suku bunga acuan Indonesia termasuk empat besar yang paling tinggi di atas Filipina dan lebih rendah di bawah Brunei Darussalam. Sementara, Myanmar menjadi negara dengan suku bunga acuan paling tinggi di kawasan.
Para ekonom berharap, penurunan suku bunga rupiah bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Paling pertama, diharapkan suku bunga perbankan juga ikut ter-relaksasi.

Penurunan suku bunga BI 7DRR menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan kredit dari perusahaan dan rumah tangga, baik untuk berusaha maupun konsumsi akan meningkat. Dampak lainnya, jumlah uang beredar juga ikut meluas.

Penurunan suku bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi. Ini semua akan meningkatkan aktifitas konsumsi dan investasi.

“Sehingga aktifitas perekonomian semakin bergairah. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, BI merespons dengan menaikkan suku bunga untuk mengerem aktifitas perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi,” dikutip Ahad (27/10).

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Sehingga memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat,” tulis BI. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here