Tidak saja melayani penerbangan antar pulau, Bandara APT Pranoto juga melayani rute-rute bandara perintis lainnya di Kaltim dan Kaltiara,

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda terus berbenah menuju bandara kelas internasional seperti harapan banyak pihak.

Walau sempat ditutup dan tidak beroperasi selama dua hari karena adanya retakan pada landasan taxiway, tidak menyurutkan bandara nomor dua terbesar di Kaltim ini untuk terus berbenah.

Kepala Bandara APT Pranoto, Dodi Dharma Cahyadi mengungkapkan beberapa keinginannya agar bandara ini bisa lebih baik. Walaupun harus diakui bahwa masih banyak yang diperlukan agar bandara ini bisa beroperasi secara maksimal.

Dodi mencontohkan sejak diresmikan setahun yang lalu, bandara kebanggaan warga Samarinda ini belum memiliki fasilitas air field lighting system (AFLS) yang berfungsi memandu pesawat ketika mendarat dan mengudara dalam keadaan gelap atau malam hari.

Pelayanan keamanan dan navigasi udara di bandara APT Pranoto dinyatakan serata dengan bandara lainnya di Indonesia.
“Saat ini sistem lampu untuk pendaratan malam hari sudah dalam pengerjaan dan akan selesai pada akhir Desember 2019. Sehingga awal tahun 2020 mendatang bandara ini sudah dapat melayani penerbangan pada malam hari,” ujarnya, pada Kamis (10/10).

Selain itu Dodi menjelaskan, dengan panjang landasan pacu (runway) sepanjang 2.500 meter, dan sudah mampu melayani 4.000 penumpang per hari, sudah selayaknya Bandara APT Pranoto memiliki 10 garbarata. Saat ini garbarata yang tersedia hanya dua buah, sehingga memerlukan penambahan dalam masa mendatang.

Urusan landasan pacu dan taxiway yang bermasalah karena terjadi keretakan, Dodi menjelaskan saat ini pihak Dinas Perhubungan Provinsi Kaltim tengah melakukan pekerjaan untuk mempertebal landasan. Diduga tanah yang labil menjadi kendala utama kekuatan landasan pacu yang didarati pesawat-pesawat berbobot besar ini.

Dodi juga meminta perhatian Pemprov Kaltim untuk tegas mengatur aktivitas pertambangan batu bara yang ada di sekitar bandara. Karena beberapa aktivitas pertambangan bisa saja mengganggu aktivitas bandara yang melayani banyak penumpang.

“Kalau secara teknis dan aturan, seharusnya jarak lima kilometer harus steril dari kegiatan masyarakat. Lucunya disini malah ada aktivitas tambang batu bara, bahkan limbahnya sempat masuk kedalam perumahan pegawai bandara,” ucapnya.

Untuk urusan Sumber Daya Manusia, walaupun termasuk bandara baru, Dodi menyatakan bahwa Bandara APT Pranoto memiliki standar yang sama dalam pelayanan keamanan dan navigasi udara.

“Kalau dari sisi SDM kita tidak kalah. Petugas yang andal dan integritas yang tinggi adalah komitmen kami untuk membangun Bandara APT Pranoto menjadi besar lagi,” tegasnya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here