Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Oleh: Bantolo / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta — Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo akan meninjau ulang aturan pembatasan ukuran kapal tangkap dan kapal pengangkut ikan hidup.

Tak kalah penting yang juga dibahas adalah pelarangan ekspor benih lobster, padahal kayanya, ini penting guna melindungi keberlanjutan stok lobster dan meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

Pemerintah membatasi ukuran maksimal kapal tangkap sebesar 150 Gross Tonnage (GT) dan kapal angkut 200 GT untuk memberi kesempatan berusaha yang sama bagi nelayan kecil.

Selain itu, aturan batas ukuran minimum penangkapan kepiting. Kepiting diatur ukurannya untuk menjaga keberlanjutan, meskipun para nelayan mengeluh karena tidak bisa menangkap kepiting seenaknya, ” ujar Edhy dalam acara pembukaan acara Aquatica Asia dan Indoaqua Conference & Expo 2019 di Balai Kartini Jakarta, Kamis (06/11).

Edhy menegaskan, lebih baik benih lobster dikembangkan di dalam negeri, ketimbang diekspor. “Jangan devisa lari ke negara lain. Untungnya kecil bagi pembudidaya. Lobster memiliki nilai tambah dalam negeri bila dikembangkan dalam negeri, ” terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga akan membangun sentra ikan budidaya di daerah untuk membuka lapangan kerja dan membuka peluang ekspor.

Kemudian tingginya harga pakan ikan membuat nelayan menjerit. Pakan berkontibusi besar sekitar 40 persen dari biaya produksi. Untuk tu, dia minta pengusaha besar pakan ternak menurunkan harga pakan.

Masalah stunting atau kekerdilan tubuh dan otak juga menjadi perhatian pemerintah. “KKP siap melawan stunting.

Jangka panjang kuncinya menggenjot budidaya perikanan. Stunting menjadi PR utama kita dan musti segera tuntaskan, ” pungkasnya.(YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here