Pemimpin Majelis Rasulullah Assabatush Sahabah, Surawati (kiri) mendengarkan nasihat dari penurus MUI Kota Samarinda, agar mengehntikna kegiatan pengajiannya karena dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Oleh: Yuliawan A

Poskaltim.com, Samarinda – Akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Samarinda memutuskan bahwa ajaran pengajian yang menamakan kelompok mereka Majelis Rasulullah Assabatush Sahabah, menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Ketua MUI Samarinda, Zaini Naim bahkan bertemu dengan pimpinan pengajian bernama Surawati, dan mengajaknya bertobat atas kesalahan yang dilakukannya.

“Pengajiannya tertutup dari warga lainnya. Begitupun tempatnya kerap berpindah-pindah,” ujar Zaini Naim, Rabu (13/11).

Pengajian yang sudah beberapa bulan lalu terdeteksi menyimpang oleh warga sekitar ini sekitar sebulan lalu telah dalam penanganan MUI Kota Samarinda untuk diteliti dan didalami ajarannya.

Setahun terakhir aktivitas pengajian kelompok Majelis Rasulullah Assabatush Sahabah ini melakukan pengajiannya di Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir. Menurut warga sekitar, pengajiannya dilakukan hingga menjelang subuh sekitar pukul 04.00 Wita. Anggota pengajian ini juga berkumpul atau bercampur antara jamaah pria dan wanita.
Bahkan, menurut pengakuan Surawati kepada MUI Kota Samarinda, setiap pengajiannya selalu dihadiri oleh para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, putri nabi Aisyah dan djuriad-djuriadnya.

Zaini Naim, mengimbau untuk warga sekitar untuk tenang karena pengajian ini telah dilarang aktivitasnya. Bahkan, sana Zaini pengajian ini untuk dibubarkan karena menyimpang dari ajaran Rasullullah Muhammad SAW. Ia berharap dengan adanya pelarangan ini warga tidak main hakim sendiri terhadap kelompok Surawati ini.

Lanjut Ketua MUI Samarinda Surawati mengakui beberapa ajarannya tidak sesuai dengan agama dan berjanji akan memperbaiki, bahkan ia ingin bertobat dan menutup pengajiananya.

“Kami telah memberikan nasehat dan meluruskan beberapa ajaran majelis tersebut yang tidak sesuai dengan syari’at agama Islam. Surawati (pengasuh) Majelis ta’lim As Sab’atus Shohabah menyatakan siap menghentikan segala kegiatan majelis tersebut yang dibuktikan dengan penandatanganan surat pernyataan bermaterai, dan bertobat kepada Allah Swt,” ucap Naim.

Ia juga enggan merinci lebih jauh apa kesalahan terberat dari kelompok pengajian Rasulullah Assabatush Sahabah . “Pendek kata, sesat atau tidak itu tupoksi MUI dan jangan terlalu membesar-besarkan. Perlu di ingat juga negara ini ada aturan dan norma agama,” tegasnya.

Ketua MUI Samarinda ini hanya memberikan Kriteria jika suatu aliran dianggap sesat yaitu Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan Rukun Islam. Kedua, meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur’an dan sunnah). Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Al Quran. Keempat, mengingkari otentisitas dan kebenaran Al Quran.

Kelima, menafsirkan Al Quran yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir. Keenam, mengingkari kedudukan hadist sebagai sumber ajaran Islam.

Ketujuh, melecehkan atau mendustakan nabi dan rasul. Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.

Kesembilan, mengurangi atau menambahkan pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
Kesepuluh, mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya.(YAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here