Tekad Indonesia yang berkeinginan menjadi produsen mobil listrik, ternyata disangsikan oleh Bank Dunia.

Oleh: Suandri Ansah / Yuliawan A

Poskaltim.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia optimistis akan nasib mobil listrik yang sedang terus dalam pengembangan anak-anak bangsa. Indonesia bertekad menjadi pusat manufaktur otomotif yang kuat di ASEAN dan sebagai negara pengekspor kendaraan listrik pada tahun 2025 hingga 2030.

Walaupun, Bank Dunia nampaknya meragukan ketercapaian mimpi itu. Sebab, Indonesia disebut tidak dapat mengekspor mobil listrik karena tidak menjadi bagian dari rantai pasokan global.

“Mengekspor mobil memerlukan menjadi bagian dari rantai pasokan yang terintegrasi di berbagai negara. Indonesia sebagian besar tidak terhubung ke sana,” tulis Bank Dunia dalam laporannya bulan September 2019 dikutip Kamis (5/9).

Indonesia terputus dari rantai pasokan global dalam produksi barang berorientasi ekspor dipicu beberapa hal. Pertama, impor bahan baku untuk menghasilkan ekspor terhambat karena “Tindakan Non-Tarif” yang mahal, memakan waktu, dan diskresioner.

Kedua, ekspor yang tidak kompetitif karena sebagian besar bahan baku dikenakan tarif impor. Misalnya 15% untuk ban, 10% untuk penyala kabel, mesin bensin dan gear box, 15% untuk koil dan baut.

“Indonesia tidak memiliki cukup Insinyur Produksi, Insinyur Proses dan Manajer Teknik Desain, Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan dan manajer SDM,” kata laporan itu.

Kemudian, pembatasan penanaman modal asing langsung atau Foreign Direct Invesment (FDI) karena aturan Daftar Negatif Investasi (DNI) membuat biaya logistik menjadi lebih tinggi dan kelistrikan lebih mahal dan masih belum bisa diandalkan ke timbang negara tetangga. (YAN/INI Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here